Koster Jamin Produk Pertanian Bali Dipasarkan ke Industri Perhotelan

oleh
Buah salak Bali akan dijual ke hotel-hotel dan restoran. (Ist)
banner 300250

Jembrana, suarabali.com – Gubernur Bali Wayan Koster menjamin produk hasil panen para petani lokal di Bali akan dipasarkan ke industri perhotelan, restoran, dan katering. Sehingga, ada kepastian harga dan keuntungan yang diperoleh para petani lokal di Bali.

“Melalui Pergub 99, produk pertanian lokal akan dibeli pihak hotel, restoran, dan katering dengan harga minimal 20 persen dari biaya produksi. Sehingga, sudah pasti menguntungkan para petani kita, (harga) tidak anjlok,” Kata Gubernur dalam acara sosialisasi, pembinaan, dan pemberdayaan masyarakat bertajuk ‘Tatap Muka Gubenur Bali Bersama Krama Kabupaten Jembrana’ di Gedung Mendapa Kesari, Negara, Minggu (10/3/2019).

Di hadapan ratusan krama dan tokoh masyarakat Jembrana, Koster membeberkan pemberlakuan Pergub No. 99 bertujuan untuk menyatukan sektor pertanian dengan pariwisata di Bali, sehingga mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian kalangan petani.

“Bali ini dikunjungi wisatawan mancanegara 7-8 juta  orang per tahun, domestiknya 9-10 juta. Misalnya, jika pada musim salak, kita suguhkan salak, musim manggis kita suguhkan manggis, dan seterusnya. Tidak ada lagi istilah buah lokal kita tidak laku. Saya wajibkan sekarang hotelnya, minimal di musim salak ada dua biji salak di tiap kamar. Musim manggis juga begitu. Dan, harus dibayar buahnya, (kebijakan) ini diharuskan dan ditegaskan,” tutur ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Dengan berjalan beriringan, menurut Koster, pariwisata bisa mengangkat ekonomi para petani lokal. “Jangan jalan sendiri-sendiri. Pariwisatanya maju, petaninya mati, tidak boleh seperti itu,” tegasnya.

Koster melanjutkan, selama ini pasar dari wisatawan yang demikian besar datang ke Bali belum diberdayakan. Sehingga, belum mampu menyentuh langsung para petani lokal, yang di sisi lain sering menghadapi anjloknya harga pada saat musim panen dan akhirnya harus menerima produknya terbuang busuk karena tidak laku terjual.

“Ini enggak boleh lagi. Akan saya tata dan akan saya buatkan sentra pasar sesuai dengan potensi dan komoditasnya. Jeruk di Kintamani, salak di Karangasem, manggis di Tabanan, dan seterusnya,” ujarnya.

Koster menyebutkan, kedepannya juga akan dibentuk industri-industri pengolahan sebagai sarana menghindari terbuangnya hasil pertanian untuk kemudian diolah menjadi produk-produk seperti jus, wine, dan lainnya.

“Sampai arak Bali pun akan benar-benar saya hidupkan lagi. Suratnya sudah saya kirimkan dan saya fasilitasi industrinya, buat koperasi agar masyarakat kita maju dan jadi bos. Jangan jadi anak buah terus. Itu yang namanya berdikari secara ekonomi,” tukasnya. (*)