Koster: Bali Menjadi Pusat Peradaban Dunia

oleh
Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri acara The IX International Conference of Eurasia World Heritage Cities, Resilient Heritage and Tourism, di Hotel Prama Sanur Beach, Denpasar, Selasa (30/4/2019). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan transformasi masyarakat Bali untuk menjadi masyarakat dunia yang modern tidak dapat terhalangi, mengingat Bali kini menjadi salah satu pusat peradaban dunia.

“Pembangunan Bali kedepan mesti memiliki karakter dan jatidiri. Hal ini dapat dilakukan melalui penguatan nilai luhur dari tradisi adat, agama, dan budaya yang telah terwarisi secara turun menurun,” kata Koster saat membuka acara The IX International Conference of Eurasia World Heritage Cities, Resilient Heritage and Tourism, di Hotel Prama Sanur Beach, Denpasar, Selasa (30/4/2019).

Terkait hal itu, menurut Koster, dapat dilakukan secara terencana, terpola, dan menyeluruh untuk menanamkan jiwa pusaka yang berkarakter dan peduli terhadap keluhuran tradisi adat, agama, dan budaya pada setiap generasi Bali.

“Jadi, masyarakat Bali selain unggul sebagai pribadi yang profesional dan modern, juga harus memiliki kepribadian yang berkarakter dan berintegritas yang baik dan luhur. Kedepan, kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi Bali akan diarahkan untuk membangun jiwa dan jatidiri masyarakat yang berkarakter dan peduli terhadap keluhuran tradisi, adat, agama, dan budaya Bali,” ungkap ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini.

Koster menjelaskan, jatidiri dan integritas kebudayaan Bali dibentuk oleh perjalanan sejarah peradaban yang berkembang di antara basis teritori Desa Adat dan juga kota. Bali merupakan pulau kecil yang terdiri dari 9 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 4,2 juta jiwa. Bali memiliki lebih dari 5.000 pura, sehingga dikenal sebagai Pulau Seribu Pura.

Karakteristik yang lain, papar Koster, Bali dikenal sebagai pulau yang unik karena memiliki alam manusia dan budaya yang menyatu dalam suatu kesatuan tatanan kehidupan yang terus hidup di tengah-tengah masyarakat dalam dinamika perubahan global.

“Alam Bali merupakan alam yang sangat indah, bersih. Bali didiami oleh manusia yang memiliki tata kehidupan dengan kebudayaan dan spiritualitas yang tinggi. Tata kehidupan manusia Bali dengan kebudayaan tinggi tersebut diwadahi dalam Desa Adat yang menjadi wadah menyatunya simbol-simbol dan nilai-nilai yang bersumber dari adat istiadat, agama, tradisi, seni, dan budaya serta kearifan lokal dalam melaksanakan tata kehidupan sehari-harinya, sehingga terwujud suatu kehidupan yang suci, agung, dan taksu,” jelasnya.

Lebih lanjut Gubernur Koster menjelaskan, pemajuan kebudayaan Bali akan dilakukan melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan secara konsisten dan terus-menerus. Warisan budaya atau kepustakaan menjadi ranah kebudayaan yang dilindungi. Perlindungannya melalui inventarisasi, pemeliharaan, pengamanan, penyelamatan, dan publikasi.

“Melalui sinergi dan kerja sama berkelanjutan dengan semua pihak, terutama bersama walikota dan bupati seluruh Bali. Dengan demikian, ketangguhan pusaka dalam menopang pariwisata budaya niscaya dapat terjaga secara baik,” imbuh Koster.

Koster mengungkapkan, Bali sempat mengalami konflik kebudayaan terkait perubahan tata ruang dari ruang pertanian atau subak yang lestari menjadi ruang kawasan pariwisata atau industri modern lainnya. Alih fungsi lahan berlangsung masif tanpa terkendali. Untuk itu, dibawah kepemimpinannya melalui visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Koster akan menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya demi terwujudnya kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia secara skala dan niskala.

“Artinya bahwa visi pembangunan Bali ke depan sangat pro dengan keterjagaan kota pusaka. Segala warisan budaya yang dimiliki Bali baik bersifat benda maupun tak benda yang bernilai luhur, unik, suci dan indah harus dijaga kelestariannya. Justru yang mesti dikembangkan ke depan adalah pembangunan berbasis penguatan warisan budaya atau pusaka. Seperti pariwisata budaya dan religius yang menjadikan khasanah warisan budaya atau pusaka sebagai pusat studi destinasi dan juga ruang konservasi,” tambahnya.

Sementara Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra mengungkapkan Kota Denpasar telah bergabung dengan Organitation World Heritage Cities (OWHC) pada 10 Oktober 2013. Dengan demikian, Kota Denpasar telah memiliki hubungan yang erat dengan kota-kota anggota OWHC lainnya, bahkan telah melakukan kerja sama antara anggota OWHC sebagai bentuk kerja sama persahabatan untuk dapat berbagi pengalaman, bertukar gagasan dalam melestarikan dan memperkuat warisan budaya sebagai penyelamat dasar wisata budaya dan memperkuatnya di masa depan untuk generasi berikutnya.

“Pemerintah Kota Denpasar bersama masyarakat dan desa adat berupaya melestarikan aset pusaka, karena hal ini dipandang sangat potensial sebagai modal untuk pembangunan Kota Denpasar mendatang. Aset pusaka tersebut dijadikan peluang bagi pasar wisatawan. Ketangguhan Budaya yang berlangsung dari masa ke masa sangat terbukti sebagai modal bagi pengembangan pariwisata heritage di Kota Denpasar baik itangible, ditetapkan orientasi pembangunan pariwisata yang berlandaskan bduaya tanpa kehilangan identitas dan kebanggaannya,” jelas Rai Mantra.

Untuk diketahui, Kota Denpasar merupakan kota kedua di Indonesia yang ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Kota Pusaka Dunia Eurasia (Negara-negara yang tergabung kota pusaka dunia Eropa timur dan Asia). Untuk di Indonesia, konferensi ini pertama kali dilaksanakan di Kota Solo tahun 2008 ketika Joko Widodo masih menjabat sebagai Wali Kota Solo. (*)