KLB Campak Dicabut, Kemenkes Fokus ke Program Pemenuhan Gizi Keluarga

oleh
Ilustrasi. (Ist)
banner 300250

Agats, suarabali.com – Walaupun status kejadian luar biasa (KLB) campak di Kabupaten Asmat sudah dicabut pada Senin (5/2/2018), tetapi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetap fokus mengoptimalkan pelayanan kesehatan serta edukasi tentang pemenuhan gizi keluarga di kabupaten tersebut.

Senin (5/2/2018) sore di Kampung Kaye, Agats, Kabupaten Asmat, misalnya, sekitar 100 anak, bayi, dan balita berkumpul di balai kampung. Nampak pula beberapa ibu hamil yang ingin memeriksakan diri.

“Kegiatan screening gizi ini diadakan sebulan sekali, tiap tanggal 8 dan bergiliran dilakukan di tiga kampung yang kami naungi,” kata Kepala Puskesmas Agats Nathan Rias, SKM, Selasa (6/2/2018).

Kegiatan rutin tersebut dipadu dengan program pemantauan 1.000 hari pertama kelahiran secara optimal. Terdapat 8 posko di beberapa distrik menyediakan sarapan bergizi seimbang setiap hari.

“Cara ini kami lakukan agar asupan nutrisi ibu hamil terjaga dan bayi yang dilahirkan sehat tanpa malnutrisi,” jelas Nathan seperti dikutip dari laman kemkes.go.id.

Keberadaan program pemantauan dan pemenuhan gizi tersebut terbilang komprehensif, lantaran terdapat empat pos, mulai dari penimbangan berat badan, ukur lingkar lengan, cek status gizi keluarga hingga pemberian biskuit PMT balita, anak sekolah serta ibu hamil.

Kebermanfaatan screening gizi keluarga diapresiasi warga Asmat. Seperti diungkapkan warga Kampung Kaye, Isaac Marwoto dan Evelyn Manem. Pasangan suami-istri yang dikaruniai lima anak laki-laki ini rutin mengikuti screening gizi.

Ternyata, Christian (3 tahun), satu dari putranya teridentifikasi bergizi kurang baik. Dokter spesialis anak dari tim Flying Health Care (FHC) Kemenkes, Ali Alhadar, menyarankan agar asupan makanannya diperbaiki. “Bisa mulai ditambahkan minum susu agar berat badannya cepat bertambah,” ujar Ali.

Isaac pun mengakui anaknya hanya senang makanan instan seperti mi dan snack. Beruntung, satu anak yang berusia setahun masih menyusui secara ekslusif dari sang ibu. Ekonomi yang sulit membuat asupan pangan keluarga ini hanya nasi, dan terkadang mendapat lauk, ikan atau kepiting dari hasil memancing.

Screening gizi, menurut Isaac, mudah dijangkau, baik dari segi lokasi maupun untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan anak-anaknya.

“Sebenarnya kami sangat berharap ada spesialis anak untuk membantu warga kampung. Tapi, biskuit PMT yang disalurkan Kemenkes sangat membantu anak-anak kami,” ujarnya.

Dokter spesialis anak lainnya, Cut Nur Hafifah, mengatakan model pendekatan keluarga cocok diterapkan dalam pemulihan tingkat gizi keluarga. Rata-rata status gizi di Kampung Kaye sudah membaik. Tapi, ada pola saat anak berumur 0-4 bulan, status gizinya masih baik karena masih diberi ASI. Namun, saat 9 bulan, mereka hanya dikenalkan makan nasi kosong yang penuh karbohidrat.

Yang dibutuhkan saat ini, ujar Cut, Kemenkes menyebarkan pengetahuan tentang makanan pendamping ASI melalui pendekatan keluarga. Selain itu, program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) pun diusulkan agar dapat diberdayakan untuk program jangka menengah dan jangka panjang.

Langkah selanjutnya, memberikan pengetahuan olah pangan lokal seperti daun singkong, pisang, ubi-ubian, ikan, dan kepiting menjadi sumber nutrisi bergizi seimbang. “Asmat masih butuh pendampingan dibantu kader kesehatan dari warga lokal untuk membantu sosialisasi,” ujar Cut. (Sir)