Kisah Prabu Jaya Pangus dalam Kemasan Dramatari Tejaning Stri Luwih

oleh
Pegelaran dramatari Tejaning Stri Luwih Kesenian Bintang Sekaa Wahana Gurnita Kota Denpasar di Pesta Kesenian Bali. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Pegelaran dramatari Tejaning Stri Luwih Kesenian Bintang Sekaa Wahana Gurnita Kota Denpasar mengundang tawa pengunjung pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 di Gedung Wantilan Art Center Denpasar, belum lama ini.

Pementasan dramatari Tejaning Stri Luwih Kesenian Bintang sebagai Duta Kota Denpasar mengemas Kisah Prabu Jaya Pangus. Sebanyak 10 penari ternama di Kota Denpasar nampak tampil seperti I Gusti  Bagus Sulartama, I Nyoman Geguh, Ibu Rusni, Mase Kariasa, Gede Sukaraka, I Wayan Darmida, IPutu Sunaja, dan I Gede Anom Ranuara.

Diiringi tabuh semara pagulingan yang dibawakan 30 orang dari remaja hingga dewasa. Dalam pertunjukan, selain tarian juga ditampilkan premonan diiringi tabuh samara pagulingan. Dramatari Tejaning Stri Luwih ini juga menceritakan kisah Kang Cing Wie.

Dalam cerita tersebut dikisahkan kegaduhan Prabhu Jaya Pangus akibat terkena kutukan Betari Danu yang seakan-akan meredupkan kewibawaan beliau bagaikan telaga tanpa air. Itulah sebabnya, Sang Prabhu Jaya Pangus mengadakan pertemuan di Balairung dengan para punggawa, tanda mantri, purahuta untuk bisa menyelesaikan permasalahan pada diri sang prabhu.

Hasil pembicaraan tersebut diutuslah Patih Dharma Wisesa untuk membunuh Dewi Danu agar terbalaskan sakit hati Sang Prabhu Jaya Pangus.

Alkisah amanah Dewi Danu tiada yang bisa menghalangi. Beliau pun menyebabkan wabah epidemi ke wilayah kekuasaan Prabhu Jaya Pangus, yaitu Panorajan. Menjadikan masyarakat sekitar bagai dilalap api durga geni. Akibatnya, Patih Dharma Wisesa dengan sumpah abdi dalemnya ingin membunuh Dewi Danu. Namun, tidak serta merta Dewi Danu bisa dibunuh melainkan ajal kematian diterima oleh Patih Dharma Wisesa.

Saat itupun Batari Danu bersabda, “Wahai rakyat Panorajan, jangan engkau membuat amarah seorang wanita dan jika engkau sungguh-sungguh berbakti kepada rajamu, buatlah pralingga beliau sehingga engkau setiap hari selalu bisa memujanya.”

Menurut koordinator pagelaran, I Nyoman Suarsa, program yang baru di PKB tahun ini dapat memberikan motivasi kepada semua seniman. Dengan pegelaran ini, para seniman lain tentunya akan berusaha mendalami seni hingga menjadi seorang bintang.

“Mengingat dalam pagelaran kesenian, bintang yang tampil adalah penari yang memiliki nama dan sudah terkenal,” ujar Suarsa.

Menurut dia, para penari juga sangat memupuni, sehingga bisa menampilkan yang terbaik. “Pementasan ini memang dibawakan oleh penari berumur dan ternama, karena menyesuaikan program, yakni pertunjukan kesenian bintang,” ujarnya. (*)