Kisah Pilu Nenek Rampieg yang Hidup Sendirian di Usia 80 Tahun

oleh
Utusan Gubernur Bali menemui Nenek Rampieg di rumahnya di Desa Batungsel, Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali, Selasa (6/2/2018). (Ist)
banner 300250

Tabanan, suarabali.com – “Aku tak ingin sendiri.” Mungkin, kalimat itulah yang ingin disampaikan Ni Wayan Rampieg kepada masyarakat. Namun, apalah daya, keadaan memaksa nenek berusia 80 tahun ini harus hidup sendirian di gubuk reotnya di Desa Batungsel, Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali.

Untuk mengisi sisa hidupnya sehari-hari, wanita renta yang biasa dipanggil Nenek Rampieg ini hanya bisa berbaring di tempat tidurnya. Sudah dua pekan ini, Nenek Rampieg sakit. Dia tak bisa bangun dan hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidurnya.

Ironisnya, Nenek Rampieg hidup sendirian di gubuknya. Tak ada anak atau sanak keluarga yang menemaninya untuk mengisi hari-hari di sisa umurnya.

“Saya sudah berobat, tapi belum membaik juga,” tutur Nenek Rampieg ketika utusan Gubernur Bali Made Mangku Pastika didampingi Perbekel Batungsel Made Sudiama menemuinya, Selasa (6/2/2018) pagi.

Sebelum sakit, menurut Made Sudiama, Nenek Rampieg menafkahi dirinya dengan berjualan alat-alat upacara. Nenek Rampieg memang tidak memiliki keturunan. Sebelumnya, Nenek Rampieg tinggal bersama suaminya yang kini sudah meninggal.

“Sebenarnya, nenek ini memiliki ahli waris yang sudah sering datang menengoknya,” kata Sudiama.

Sudiama juga mengatakan Nenek Rampieg sudah masuk dalam RTM di desanya dan telah memperoleh berbagai bantuan, seperti bantuan Rastra (beras sejahtera), KIS (Kartu Indonesia Sehat), dan bantuan dari pemerintah daerah melalui Dinas Sosial.

Di tahun 2018, kata Sudiama, Nenek Rampieg juga diusulkan untuk memperoleh bantuan BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) dari Kementerian PU dan Perumahan Rakyat.

Merespon adanya informasi terkait kondisi Nenek Rampieg, Gubernur Bali Made Mangku Pastika langsung mengutus tim respon cepat Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali untuk meninjau sekaligus menyerahkan bantuan.

Selasa (6/2/2018) pagi, tim utusan Gubernur Pastika langsung menuju rumah Ni Wayan Rampieg dan ber koordinasi dengan Made Sudiama selaku perbekel setempat.

Menanggapi bantuan yang diberikan kepada Nenek Rampieg, Sudiama mengucapkan terima kasih dan berharap bantuan tersebut dapat diberikan secara berkelanjutan.

Selain itu, Sudiama juga berharap bantuan serupa dapat diberikan kepada masyarakat miskin lainnya di desanya. Dia berharap agar bantuan BSPS kepada Nenek Rampieg dapat segera direalisasikan. (Sir)