Ketika Wayan Koster Hidup dalam Kemiskinan, Begini Kisahnya

oleh
I Wayan Koster. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Perjalanan hidup Wayan Koster tidaklah semulus yang dibayangkan banyak orang. Sebelum hidup mapan dan sejahtera seperti sekarang, Koster juga pernah mengalami hidup dalam kemiskinan. Namun, dia melakoni semua itu dengan tulus dan ikhlas hingga calon Gubernur Bali ini mampu keluar dari impitan kemiskinan yang kala itu mendera keluarganya di Kabupaten Buleleng.

Koster blak-blakan mengisahkan lika-liku kehidupan yang membentuk jatidirinya hingga saat ini di hadapan ratusan warga di Banjar Tag-Tag Tengah, Desa Pakraman Peguyangan, Denpasar Utara, Minggu (4/3/2018).

Koster lahir di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, dalam kondisi yang memprihatinkan. “Rumah saya terbuat dari bedeg dan lantainya tanah. Belum ada kompor zaman dulu. Orangtua saya pakai tungku,” ujar Koster.

Kemiskinan membuat hidupnya penuh kekurangan. Hampir saban hari Koster kecil hanya mengonsumsi umbi-umbian sebagai makanan. Menu makanan babi guling amat istimewa baginya kala itu, yang tak tiap hari bisa ia santap. Bahkan, Koster mengaku bisa terhitung jari menyantap menu makanan khas yang lezat itu.

“Saya makannya umbi-umbian. Makan babi guling itu kalau ada orang bikin acara. Makan nasi seperti mimpi buat saya. Itu sebabnya perawakan saya kecil begini. Mungkin kalau sekarang saya dibilang kurang gizi atau gizi buruk,” ucap Koster

Saat kelas 4 SD, Koster terpaksa menjadi buruh angkut di desanya. Itu dia lakukan untuk menambah uang sakunya. Uang hasil bekerja dititipkan kepada orangtuanya. Uang itu digunakan untuk membiayai segala keperluan pendidikannya kala itu. Jika ada sisa, sang ibu akan membelikannya selembar baju. Itu pun dibeli saban hari raya Galungan saja. Itu sebabnya, Koster selalu menyayangi segala hal yang diberikan oleh orangtuanya.

Bahkan, baju yang dibelikan ibunya tak langsung dikenakan. Dia simpan dahulu dan dipakai jika ada acara tertentu. “Kelas 4 SD saya mekuli (bekerja) jadi buruh angkut pasir, juga angkut bata. Saya jalan angkut-angkut sejauh tiga kilometer,” tutur Koster.

Koster kecil sadar jika pendidikan satu-satunya jalan untuk mengubah nasib. Dia belajar begitu giat. Itu sebabnya, sejak SD dia selalu menjadi bintang kelas. “Meski miskin saya juara,” ujarnya.

Koster kecil nyaris putus sekolah. Beruntung ada pihak yang membantunya melanjutkan sekolah begitu ia lulus SD.

“Lulus SD ada yang bantu saya bisa masuk SMP. Begitu juga lulus SMP, saya juga ada yang bantu bisa masuk SMA,” katanya.

Memasuki bangku SMP, Koster satu angkatan dengan Gede Prama di Bhaktiyasa. Bersama tokoh motivator Bali itu, ia berpacu dalam prestasi. Kadang kala Koster juara 1 dan Gede Prama juara 3. Namun, di lain kesempatan terjadi sebaliknya, Gede Prama juara 1, Koster juara 3.

Kebersamaan Koster dan Gede Prama berlanjut hingga tingkat SMA. Hanya saja, Gede Prama mengambil jurusan IPS, sementara calon gubernur yang berpasangan dengan Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati itu mengambil jurusan IPA.

Begitu lulus SMA, dia berhasil masuk ITB pada tahun 1981. Bermodal nekat kuliah. Sudah siapkan diri sambil kerja untuk membiayai kuliah. Tahun 1987, Koster muda lulus S1 ITB. Dia kemudian diterima sebagai pegawai honorer di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai peneliti.

“Tahun 1987 itu, saya terima honor Rp 60 ribu tiap bulan. Saya nyambi mengajar matematika. Saya senang sekali dengan matematika. Dari honor mengajar, saya dapat tambahan uang Rp 70 ribu. Ada lebihnya, saya kirim ke kampung untuk orangtua dan adik-adik saya,” tuturnya.

Selain itu, dia juga mulai membiasakan diri menulis. Hingga suatu ketika naskahnya diterima oleh penerbit untuk dicetak menjadi buku.

“Karena tidak punya uang saya berpikir keras cari tambahan. Tapi dari situ saya kemudian jadi senang menulis buku. Waktu itu juga saya sambil berdagang,” papar Koster.

Kini, meski bernasib cukup baik, Koster menyesal tak dapat berbuat banyak untuk empat adiknya yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi seperti dirinya.

Dari sana, Koster begitu serius jika bicara soal pendidikan, utamanya di DPR RI. “Empat adik saya tidak ada yang menolong sekolahnya seperti saya. Orangtua saya tidak punya biaya untuk keempat adik saya,” tutupnya. (*)