Kasus HIV-AIDS di Badung Meningkat Tajam, Ini Penyebabnya

oleh
Wabup Badung Ketut Suiasa saat membuka Pelatihan Mahasiswa Peduli AIDS se-Kabupaten Badung di aula pertemuan STP Nusa Dua, Rabu (24/4/2019). (Ist)
banner 300250

Badung, suarabali.com – Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa mengungkapkan penemuan kasus HIV dan AIDS di Badung beberapa tahun terakhir meningkat tajam. Hingga Desember 2018, jumlah kasus HIV-AIDS sebanyak 2.199 kasus.

“Jumlah itu dari orang-orang yang terjangkit dari berbagai daerah dan negara yang terdaftar di KPA Kabupaten Badung, terdiri dari HIV 1.518 kasus dan AIDS 681 kasus,” kata Suiasa saat membuka pelatihan mahasiswa peduli AIDS se-Kabupaten Badung di aula pertemuan STP Nusa Dua, Rabu (24/4/2019).

Suiasa memaparkan, HIV-AIDS paling tinggi menyerang kelompok umur 20-49 tahun, yakni sebanyak 90,5% dari total kasus. Ini berarti jika sejak terinfeksi sampai masuk ke kondisi AIDS lamanya 5 tahun, maka usia terendah saat terinfeksi sekitar 15-24 tahun.

“Jalur penularannya terbesar pada usia muda adalah dari hubungan seksual dan penyalahgunaan napza,” ujar Suiasa yang juga Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Badung.

Menurut dia, kaum muda yang memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang HIV dan AIDS baru 21,3%. Hasil ini perlu mendapat perhatian khusus, bagaimana kaum muda dapat mencegah penularan HIV-AIDS.

“Dari 21,3% maka perlu ditingkatkan dan dikembangkan jumlah generasi muda yang memahami dan mengerti secara komperensip bahaya HIV-AIDS itu sendiri. Selain untuk diri sendiri nantinya mereka ini diajak bersama-sama bergerak menyosialisasikan ke masyarakat dan lingkungan mereka sendiri, khususnya generasi muda,” ujar Suiasa.

Pelatihan mahasiswa peduli AIDS se-Kabupaten Badung ditandai dengan pengalungan nama peserta. Pelatihan ini merupakan yang kedua kalinya diadakanKPA Kabupaten Badung.

Suiasa mengatakan pelatihan mahasiswa Peduli AIDS merupakan salah satu upaya penanggulangan HIV-AIDS dan penyalahgunaan narkoba di lingkungan perguruan tinggi negeri dan swasta di Kabupaten Badung.

Menurut dia, keberadaan mahasiswa peduli AIDS harus ditingkatkan eksistensinya dan harus didukung semua pihak agar program ini dapat terus ditingkatkan, baik secara kualitas maupun kuantitasnya.

Sementara ketua panitia, Putu Sunadyati mengatakan pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang HIV-AIDS, narkoba, dan kesehatan reproduksi di perguruan tinggi negeri dan swasta di Kabupaten Badung.

Selain itu, kata dia, terlatihnya mahasiswa peduli AIDS, terbentuknya Kelompok Mahasiswa Peduli AIDS dan Narkoba (KMPAN), menjadikan mahasiswa memiliki keterampilan ketahanan hidup dalam menghadapi masalah pergaulan remaja dan menjadikan aktivitas remaja yang potensial sebagai model yang paling baik untuk remaja seusianya. “Pelatihan ini diikuti 45 peserta dari perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta di Badung dan dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 24 sampai 26 April 2019,” ujarnya. (*)