Karkas Ayam Jatim Tembus Pasar Ekspor Timor Leste

oleh
Pelepasan ekspor 60 ton karkas ayam beku dari Jawa Timur senilai Rp 2,8 miliar ke Timor Leste. (Ist)
banner 300250

Surabaya, suarabali.com – Pasca kunjungan delegasi dari The Republic of Democratic of Timor Leste (RDTL) atau Timor Leste untuk melakukan Import Risk Analysis (IRA) pada awal Januari 2018 dan 7 – 12 April 2019 ke beberapa perusahaan penghasil pakan dan produk peternakan di Jawa Timur, kini membuahkan hasil yang yang menggembirakan.

Pasalnya, kedua produk asal subsektor peternakan asal Jatim pun lolos verifikasi kesehatan dan keamanan hewan negara ini, sehingga dapat diterima sebagai produk ekspor.

Setelah pakan ternak yang diekspor perdana pada pekan lalu, kini giliran Kementan melalui Karantina Pertanian Surabaya melepas 60 ton karkas ayam beku senilai Rp 2,8 miliar ke Timor Leste untuk pertama kalinya.

“Alhamdulilah, ini menjadi bukti bahwa produk kita mampu bersaing di pasar global, kita apresiasi pelaku usaha yang telah dapat menembus pasar ekspor,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil saat lakukan kunjungan kerja monitoring pemeriksaan karantina hewan di gudang pemilik PT Ciomas Adisatwa, Sidoarjo, Senin (23/9/2019).

Menurut Jamil, dalam era perdagangan global saat ini hambatan tarif atau Tariff Trade Barrier tidak dapat lagi diterapkan maka produk termasuk produk pertanian sepanjang dapat memenuhi persyaratan teknis dapat memasuki pasar global.

Pada produk pertanian, persyaratan teknis berupa Sanitary and Phytosanitary Measurement atau SPS Agreement adalah bagian dari kesepakatan Organisasi Perdagangan Dunia yang berkaitan dengan hubungan antara kesehatan dan perdagangan internasional. “Menjadi penting bagi produk pertanian kita untuk penuhi persyaratan ini jika akan memasuki pasar ekspor. “Barantan selaku fasilitator perdagangan produk pertanian siap mengawal,” tambah Jamil.

Tidak hanya bagi pelaku eksportir yang telah berhasil menembus pasar ekspor, Jamil juga mengapresiasi masyarakat yang telah turut menjaga hewan dan tumbuhan tetap lestari. “Laporkan hewan dan tumbuhan yang dilalulintaskan kepada petugas Karantina Pertanian, agar tidak ada hama penyakit yang tersebar. Jika sehat dan aman maka produk pertanian kita bisa masuk pasar ekspor,” papar Kabarantan.

Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Mussyafak Fauzi yang hadir dan mendampingi kunjungan kerja juga menyampaikan bahwa selain melepas karkas beku ayam pada saat yang bersamaan juga turut dilepas beberapa produk pertanian sebanyak 332,1 ton total nilai ekonomi sebesar Rp. 10.26 miliar.

Produk pertanian unggulan asal Jatim lain yang diekspor adalah produk olahan Kakao berupa Cocoa Sugar Mix, Alkalized Cocoa Powder, dan Natural Cocoa Powder dengan total 272 ton senilai Rp 6,06 miliar milik PT Aneka Kakao, kemudian kunyit, damar batu dan cengkeh masing-masing 20 ton senilai Rp. 2,2 miliar milik PT Sari Makmur dengan tujuan negara Cina, Rusia, Vietnam dan India.

Selanjutnya adalah komoditas asal hewan berupa Sarang Burung Walet (SBW) milik CV Walet Mas sebanyak 100 kilogram senilai Rp 2 miliar dengan negara tujuan Hongkong.

IKH Mendorong Produk Berdaya Saing

Tommy Kuncoro, Pimpinan PT Ciomas Adisatwa mengapresiasi bantuan yang diberikan Barantan melalui Karantina Pertanian Surabaya, Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Dinas terkait di Provinsi Jatim. Pihaknya telah menerima penetapan sebagai Instalasi Karantina Hewan (IKH).

Penetapan oleh Barantan dan OKKP Daerah setelah memenuhi persyaratan. Dengan IKH maka produk yang akan diekspor dapat dilakukan pemeriksaan karantina di gudang pemilik sehingga selain dapat mempercepat arus barang juga dapat lebih menjamin produk diterima negara tujuan.

Inovasi layanan “jemput bola” sudah seharusnya terus kita dorong agar potensi yang ada baik dari Jawa Timur maupun dari seluruh Indonesia dapat terus kita pacu untuk masuki pasar ekspor. “Ini instruksi Pak Mentan juga cita-cita kita bersama untuk menjadi lumbung pangan dunia,” jelas Mussyafak.

Gelar ‘karpet merah’ untuk layanan ekspor sekaligus undang investor sebagai tulang punggung ekonomi. Petani bisa dapat nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Kepala Karantina Pertanian Surabaya juga memaparkan kinerja eksportasi produk pertanian di wilayah kerjanya pada periode 1 Januari – 31 Agustus 2019 masing-masing untuk komoditas asal tumbuhan sebesar Rp 107,57 triliun. Adapun produk yang mendominasi berupa kakao dan sawit beserta turunannya, ubi jalar, tanaman hias dan pala.

Sedangkan komoditas asal hewan pada periode yang sama dapat mencapai nilai ekonomi Rp 6,342 triliun yang didominasi oleh produk SBW.

Bupati Sidoarjo Syaifull Illah yang juga hadir dan turut melepas ekspor juga mengapresiasi kinerja eksportasi dari Jawa Timur, khususnya dari wilayah kerjanya di Sidoarjo. Ia berharap fasilitasi yang diberikan Barantan juga dapat terus mendorong tumbuhnya para eksportir baru diwilayahnya. Masih banyak potensi pertanian di Sidoarjo, perlu kita dorong bersama agar mampu bersaing dipasar ekspor.

“Terus perkuat sinergitas antar stake holder dibidang agribisnis agar sektor pertanian Jatim dapat berkontribusi positif pada neraca perdagangan nasional,” pungkas Jamil. (*)