Kapolda Bali Resmikan Patung Padarakan Rumeksa Gardapati

oleh
Kapolda Bali Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose bersama para pejabat tinggi di Bali saat peresmian patung Padarakan Rumeksa Gardapati di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (10/11/2018). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Kapolda Bali Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose meresmikan patung Padarakan Rumeksa Gardapati di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandi, Renon, Denpasar, Sabtu (10/11/2018).

Patung itu menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap aksi premanisme dan peredaran narkoba yang telah 20 tahun lamanya merajalela di Bali.

Sebelum diresmikan, patung Padarakan Rumeksa Gardapati yang berarti ‘rakyat yang menjaga dan mengawal sampai mati’, dilakukan upacara pemelaspasan yang dipuput 88 Jro Mangku se-Bali. Peresmian ditandai dengan pelepasan pita dan balon ke udara.

Bentuk patung Padarakan Rumeksa Gardapati adalah sosok lelaki paruh baya yang sedang berdiri tegap, dada membusung sambil membawa tameng Pancasila dengan tangan lurus menunjuk dan menginjak raksasa bhuta kala.

Laki-laki paruh baya menggambarkan sosok masyarakat Bali. Tangan lurus menunjuk berarti menunjuk aksi para premanisme dan pengedar narkoba yang nyata ada di depan mata dan merupakan tujuan perlawanan.

Pandangan jauh ke depan berarti pandangan masa depan terhadap situasi Pulau Bali yang jauh lebih baik dari saat ini, yaitu bebas dari aksi presmanisme dan narkoba. Berdiri tegap dengan dada membusung menunjukkan jatidiri masyarakat Bali yang menjunjung tinggi adat istiadat leluhur. Tameng Pancasila merupakan simbol dari Pancasila sebagai perisasi diri masyarakat Bali dalam bermasyarakat.

Menginjak raksasa bhuta kala merupakan bukti dari perlawanan masyarakat Bali yang dapat mengalahkan dan menundukkan raksasa bhuta kala yang menjadi simbol wujud segala perbuatan jahat dalam adat istiadat Bali.

Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose mengatakan, patung mahakarya masyarakat Bali ini dibangun untuk membangkitkan kekuatan dan semangat perlawanan masyarakat Bali terhadap aksi premanisme dan peredaran narkoba.

Dia berharap keberadaan patung ini bukan hanya sebagai karya seni semata, tetapi sebagai warisan dan peninggalan yang akan terus dikenang.

“Saya ingin semua orang Bali terbebas dari narkoba dan premanisme. Jadi, jangan coba-coba bermain narkoba dan melakukan aksi premanisme di Bali,” tegas Kapolda.

Menurut dia, upaya ini penting dilakukan mengingat pengungkapan kasus narkoba dan premanisme di Polda Bali cukup banyak. Untuk kasus premanisme pada tahun 2018, Polda Bali sudah menangani 176 kasus dan menetapkan 803 orang tersangka karena melakukan pungutan liar, pengancaman, dan kekerasan. Sedangkan untuk kasus narkoba, Polda Bali sudah menangani 894 kasus dengan jumlah tersangka mencapai 1.120 orang.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Bali, Semeton Bali untuk menjaga Pulau Dewata agar tetap shanti lan jagadhita. Mari kita jaga Pulau Bali dengan sebaik-baiknya, sehingga Bali terbebas dari narkoba dan premanisme,” imbau jenderal lulusan Akpol tahun 1988 ini.

Kapolda berulang kali mengajak masyarakat Bali untuk memberantas narkoba dan premanisme sampai ke akar-akarnya. Masyarakat Bali, kata Kapolda, dikenal sebagai orang Indonesia plus yang hanya ada orang baik dan baik sekali. Kalau pun ada yang jahat, itu jumlahnya sangat sedikit. Namun, kalau mereka terorganisir maka akan bisa mengganggu keharmonisan masyarakat di Bali.

“Untuk itu, hari ini kita mengangkat Ketua DPRD Provinsi Bali menjadi Duta Anti Preman di Provinsi Bali. Mari kita bangkitkan para silent majority, yaitu masyarakat yang jumlahnya jauh lebih besar yang sekarang ini masih diam,” ucapnya.

“Mari singsingkan lengan baju, bahu membahu dan bersama-sama memberantas preman. Polisi akan berada di depan untuk memberantasnya. Kami butuh dukungan dari silent majority untuk serentak melawan premanisme,” sambung jenderal bintang dua di pundak ini. (*)