Kapolda Bali Bicara Soal Terorisme di Hadapan Dekan dan Mahasiswa FISIP

oleh
Kapolda Bali Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose keynote speaker dalam acara The 2nd International Conference on Social and Political Issues (ICSPI) di Prime Plaza Hotel & Suites, Sanur, Denpasar, Senin (29/10/2018). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Kapolda Bali Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose menjadi pembicara (keynote speaker) dalam acara The 2nd International Conference on Social and Political Issues (ICSPI) yang digelar di Prime Plaza Hotel & Suites, Sanur, Denpasar Selatan, Senin (29/10/2018). Selain Kapolda, panitia ICSPI juga mengundang pembicara dari Melbourne University, Prof. Karen Farguharson.

Bahkan, The 2nd International Conference on Social and Political Issues juga dihadiri oleh Prof. Mari Eka Pangestu dari Universitas Indonesia (UI) yang pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan RI. Kemudian, sebagai peserta dalam konferensi yang mengusung tema “Rethinking Nationalism, Looking Back and Looking Forward” ini adalah para dekan dan mahasiswa FISIP UI dan Unud.

Dalam kesempatan tersebut, Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose membawakan materi berjudul “Penguatan Nasionalisme sebagai Upaya Pencegahan Paham Radikalisme dan Terorisme”. Dalam materi ini, ada empat hal yang dijelaskan kepada para peserta konferensi, yaitu ruang lingkup radikalisme dan terorisme, terrorism threats, the strategy of counter terrorism dan wawasan kebangsaan.

Menurut Kapolda, terorisme adalah setiap tindakan yang melawan hukum dengan cara menebarkan teror secara meluas kepada masyarakat dengan ancaman atau cara kekerasan, baik yang diorganisir maupun tidak, serta menimbulkan akibat berupa penderitaan fisik dan/atau psikologis dalam waktu berkepanjangan, sehingga dikategorikan sebagai tindak kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime) dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity).

Kapolda mengatakan paham radikal atau terorisme di negeri ini hanya diikuti oleh segilintir orang (kaum minoritas). Kaum minoritas ini yang tidak mengkehendaki adanya NKRI dan kebhinekaan.

“Oleh karena itu, kita sebagai kelompok mayoritas di negeri ini jangan sampai menjadi silent majority yang membiarkan nilai-nilai kebangsaan terkikis oleh kelompok minoritas. Untuk itu, diharapkan peran serta dari seluruh civitas akademika agar mampu menanamkan nilai luhur Pancasila dan berkomitmen berkebangsaan yang kuat pada diri kita semua. Working together to defeat terrorism, still against terrorism and we win,” tegas Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose. (*)