Kapolda Bali Bicara Soal Kejahatan Transnasional di Sekolah Polisi Australia

oleh
Suasana diskusi di Australian Institute of Police Management (AIPM), Australia, Selasa (18/6/2019). (Ist)
banner 300250

Sydney, suarabali.com – Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose didaulat menjadi pembicara dalam kegiatan diskusi panel di Australian Institute of Police Management (AIPM), Sydney, Australia, Selasa (18/6/2019). Diskusi ini mengusung tema: Counter Terrorism and National Security Threat Facing Australia and How They Link with Indonesia.

Kunjungan Kapolda Bali ke Negara Kanguru itu terkait dengan peningkatan kerja sama bilateral antar dua lembaga penegakan hukum Indonesia dan Australia. Australian Federal Police (AFP) mengundang Kapolda Bali Irjen Pol. Petrus Reinhard Golose ke Australia untuk membahas kerja sama penanggulangan kejahatan transnasional (transnational crime) seperti terorisme, narkoba, pencucian uang, human trafficking, people smuggling, cyber crime dan isu keamanan lainnya.

Dalam diskusi tersebut, Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose mengatakan sejak peristiwa bom Bali, Polri memiliki hubungan yang sangat baik dengan AFP, baik dalam kerja sama operasional maupun pembangunan kapasitas SDM dengan membentuk JCLEC. Kerja sama ini terus dilanjutkan dan memiliki nilai yang sangat strategis, karena jumlah wisatawan Australia yang datang ke Indonesia, khususnya ke Bali, mencapai jutaan orang per tahunnya.

“Untuk penanganan terorisme di Indonesia masih fokus dengan adanya FTF, returnees dan frustrated travellers,” kata Golose yang saat itu didampingi Direktur Reskrimsus Kombes Pol. Yuliar Kus Nugroho, Kabid Humas Kombes Pol. Hengky Widjaja, dan Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Ruddi Setiawan.

Mantan Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT ini menjelaskan, tahun 2019 terjadi peningkatan aktivitas terorisme di Indonesia dengan memanfaatkan situasi Pemilu. Hal ini menjadi kendala yang lebih sulit bagi Polri dalam penanganan terorisme.

Atas hal tersebut, penanggulangan terorisme di Indonesia dilakukan dengan menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan serta penguatan nilai dan wawasan kebangsaan terutama empat konsensus dasar dalam berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Penguatan konsensus dasar dengan langsung menyentuh masyarakat untuk memberikan pemahaman bahwa dalam berbangsa dan bernegara harus mengutamakan nasionalisme di atas kepentingan agama.

Para pendiri bangsa Indonesia dari berbagai latar belakang duduk bersama dalam sebuah pergulatan pemikiran dengan kejernihan batin untuk menjadikan Pancasila sebagai pemersatu segala perbedaan. Rakyat Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai Undang-Undang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Contohnya, saya orang Indonesia yang beragama Hindu, Kristen, Islam, dan Budha. Bukan sebaliknya, saya orang Hindu, Kristen, Islam, dan Budha yang tinggal di Indonesia. Hal inilah yang kita sampaikan secara masif kepada masyarakat, baik melalui Bhabinkamtibmas, media sosial, cetak, online, dan elektronik,” ucap Kapolda.

Aksi terorisme mengancam keamanan dunia dan hampir terjadi di seluruh dunia. Penanggulangannya tidak bisa dilakukan dengan sendiri-sendiri, tetapi harus ditangani bersama melalui kerja sama antar negara.

“Dengan kerja sama yang baik, kita menang dalam melawan terorisme,” pesan Kapolda kepada para peserta didik AIPM yang merupakan calon pemimpin masa depan keselamatan publik di Australia.

Kegiatan itu juga mengundang pembicara dari AFP Deputy Commissioner Operation, Neil Gaughan dan Police New South Wales, Deputy Commissioner Dave Hudson.

Setelah kegiatan diskusi, rombongan Kapolda Bali mendapat kesempatan untuk meninjau Kantor New South Wales (NSW) Marine Police yang sebelumnya diawali dengan naik kapal laut milik NSW Marine Police. (*)