Kapal Riset Milik Jepang Teliti Perubahan Iklim di Indonesia

oleh
Peralatan penelitian di kapal riset MIRAI milik Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC). (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Kapal riset MIRAI milik Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (5/1/2018).

Kapal riset ini sudah melakukan survei untuk kegiatan Year of the Maritime Continent (YMC) di barat Sumatera sejak 45 hari yang lalu.

Kapal ini berangkat dari Singapura kemudian melakukan survei selama 15 hari di barat Sumatera dan 30 hari melakukan pengukuran iklim di 100 kilometer barat Bengkulu dan parameter cuaca serta laut.

Selama berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, pihak JAMSTEC memberikan kesempatan untuk mengunjungi dan melihat langsung operasional kapal Riset MIRAI.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Wilayah BPPT, Yudi Anantasena, mengatakan kegiatan ini merupakan rangkaian YMC yang akan dilakukan pada 2017 hingga 2019 dengan melibatkan 11 negera. Indonesia dikoordinir oleh BMKG, BPPT, dan LAPAN.

“Jadi, kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang sangat panjang. Ini akan berguna untuk memprediksi cuaca yang terjadi di Indonesia, khususnya sebagai benua maritim yang akan berpengaruh terhadap cuaca global,” jelas Yudi.

Menurut Yudi, benua maritim Indonesia sangat memengaruhi kondisi cuaca dan meteorologi di dunia. “Kami (BPPT) sudah lama bekerja sama dengan JAMSTEC. Kita punya sumber daya manusia yang ikut terlibat dalam kegiatan survei di kapal ini,” ungkapnya.

Hal serupa diungkapkan Fadli Syamsudin, peneliti utama dan principal investigator untuk pihak Indonesia dalam YMC. Menurut dia, kerja sama BPPT, BMKG, dan JAMSTEC dalam rangka kampanye internasional benua maritim.

“Kenapa dilakukan kampanye internasional, karena benua maritim adalah bagian terkahir yang kita ketahui terkait dengan perubahan iklim,” ujarnya.

Menurut dia, penelitian dilakukan di kapal riset MIRAI secara serempak. “Dengan kapal ini, juga dilakukan penelitian mengenai meteorologi dan laut di perairan Bengkulu,” kata Fadli.

Fadli mengatakan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya cuaca dan iklim di dunia. “Wilayah Indonesia memengaruhi iklim di dunia,” pungkasnya. (Sir)