Jenis Burung Baru dari Pulau Rote Ini Diberi Nama Istri Jokowi

oleh
Myzomela irianawidodoae, jenis burung baru dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Biologi telah berhasil menemukan burung endemik jenis baru asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jenis burung baru ini diberi nama Myzomela irianawidodoae. Nama itu berasal dari nama Ibu Negara.

Presiden Joko Widodo melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Menteri Sekretaris Negara telah mengijinkan penggunaan nama Ibu Negara berdasarkan Surat Nomor B 1199/M.Sesneg/D-2/HL.01.00/12/2017 tertanggal 17 Desember 2017.

“Pemberian nama tersebut sebagai ungkapan dan penghargaan kepada Ibu Negara yang sangat memperhatikan kehidupan Burung. Selain itu, dedikasinya dapat dijadikan teladan dan menjadi contoh dalam upaya menyelamatkan lingkungan,” ungkap Enny Sudarmonowati, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI, seperti dikutip dari lipi.go.id.

Lalu, bagaiman cara mengenali ciri-ciri Myzomela irianawidodoae? Dewi M. Prawiradilaga, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, menjelaskan burung ini berukuran kecil dengan panjang tubuh 11,8 cm, dan bobotnya 32,23 gram.

Kemudian, panjang paruh 1,79 cm, bentangan sayap 17,2 cm, dan panjang sayap 5,8 cm, panjang ekor 3,7 cm dan tinggi kaki 1,67 cm. “Karakteristik yang menonjol, yakni paruhnya yang berwarna hitam, warna mata cokelat gelap, warna kaki dan jari hitam dengan bantalan kuku warna kuning,” terang Dewi.

Selain itu, kombinasi warna yang dimiliki burung ini sangat cantik, yakni bulu-bulu di bagian kepala hingga dada atas dan tengkuk berwarna merah darah, warna kekang hitam dan garis hitam tipis di sekeliling mata, pita hitam pada pertengahan dada dan secara bertahap menjadi warna abu-abu dengan sapuan warna zaitun pada dada bawah, perut, paha, dan sekitar tungging.

“Punggung dan ekor burung berwarna hitam, serta pertengahan punggung sampai tunggir berwarna merah dan sayap berwarna hitam bercampur abu-abu gelap,” kata Dewi.

Dewi menambahkan, burung ini sebagai pemakan nektar (cairan manis yang terdapat pada bunga) dan serangga kecil seperti laba-laba. “Sebagai pemakan nektar, burung ini berpotensi sebagai penyerbuk dan perlu penelitian lanjutan yang mendalam terkait perannya dalam proses penyerbukan tersebut,” kata Dewi.

Myzomela irianawidodoae menghuni habitat di hutan, semak-semak, kebun dan pohon yang berbunga, terkadang bisa dijumpai memakan nektar pada bunga pohon jati di sekitar perkampungan. Suara kicauannya merdu saat sedang terbang.

Burung ini telah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999. “Burung jenis Myzomela irianawidodoae sangat terancam, karena perusakan habitat atau alih fungsi hutan, di samping luas Pulau Rote sangat kecil dan tidak memiliki kawasan lindung,” tuturnya.

Sulit dan Lama

Di sisi lain, Dewi mengungkapkan, penemuan jenis baru burung di Indonesia sangat sulit, karena hampir seluruh burung di Indonesia sudah diketahui dalam dunia ilmu pengetahuan. “Indonesia memiliki sekitar 1.606 jenis burung dan 376 di antaranya jenis endemik. Bahkan, 99 % dari taksa burung yang hidup di Indonesia dipertelakan dan dinamai oleh orang asing. Padahal, burung adalah satwa yang paling dikenal dan akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia,” terangnya.

Dia menjelaskan, peluang penemuan jenis burung baru masih ada jika melakukan kajian jenis-jenis yang tersembunyi (cryptic species). “Salah satu upaya menemukan jenis burung baru adalah menjelajahi tempat yang belum atau jarang dikunjungi peneliti atau pengamat burung mancanegara,” katanya.

Kemudian, untuk penemuan Myzomela irianawidodoae, Dewi menyebutkan, sungguh sangat lama proses penemuan jenis baru ini. Dimulai dari pernyataan Forbes pada tahun 1879 bahwa masih banyak jenis Myzomela spp. di wilayah Wallacea yang belum ditemukan.

Pada tahun 1996, Johnstone dan Jepson melaporkan dugaan jenis baru Myzomela dari Pulau Rote pada daftar jenis burung. Kemudian, pada tahun 2009, seorang aktivis lingkungan Philip Verbelen melaporkan pengamatannya di Pulau Rote pada jenis burung yang sama, serta berhasil mengambil foto dan rekaman suaranya.

Sampai akhirnya pada tahun 2017, tim peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI (Dr. Dewi M. Prawiradilaga dkk) dan tim peneliti Nasional University of Singapore, Singapura (Ass. Prof. Frank Rheindt dkk) memublikasikan jenis baru Myzomela irianawidodoae dari Pulau Rote dalam jurnal ilmiah Treubia Volume 44, edisi Desember 2017, halaman 77 – 100. (Sir)