Jegeg Asal Banyuasri Juara Desainer Busana Malam Terbaik Festival Bali Jani

oleh
Lady Athalia juara Desainer Busana Malam Festival Bali Jani. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Lady Athalia berhasil meraih gelar juara desainer Busana Malam Festival Bali Jani pada Minggu (3/11/2019). Sebelumnya, jegeg asal Banyuasri, Buleleng, ini dinobatkan sebagai Duta Endek Kota Denpasar pada Senin (28/10/2019). Mahasiswi berusia 20 tahun ini memang tidak hanya piawai di panggung pageant, tetapi juga punya skill merancang busana.

Lomba yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar ini diikuti enam desainer yang menampilkan desain busana malam bagi pria dan wanita, yang diperagakan oleh para semeton Duta Endek Denpasar. Busana malam dipilih sebagai desain busana yang dilombakan. Sebab, dalam merancang busana malam, para desainer bisa lebih ekspresif, tidak seperti lomba pakaian adat yang terbatas pada pakem-pakem tertentu.

Lady Athalia yang berstatus mahasiswi semester 5 jurusan Desain Mode Institut Seni Indonesia Denpasar ini menampilkan busana malam yang terinspirasi dari konsep Bali Aga. Letak konsep ini ada pada ikat pinggang di kedua busana yang terbuat dari susunan uang kepeng.

“Saya tertarik dengan kehidupan Bali Aga. Kehidupan orang Bali Aga itu seperti apa, terus desanya seperti apa,” ujar jegeg asal Singaraja ini mengenai inspirasi desain busana malamnya.

Lady mengaku menjadikan lomba ini sebagai salah satu pengalaman yang didapatkannya sebelum lulus kuliah.

“Saya kan sekolah desain. Jadi, saya tidak mau stuck di sana-sana saja. Seperti kita jadi mahasiswa terus menunggu lulus dulu, baru kita boleh berkreasi. Yang pasti ada dukungan dari dosen, lalu orang-orang sekitar juga, pembina saya di Duta Endek juga. Kebetulan saya juga menang di Duta Endek kemarin, lalu oleh pembina saya disuruh untuk mengembangkan lagi potensi yang ada,” kesan Lady Athalia.

Adapun salah satu kriteria dalam lomba desain ini, yaitu menggunakan kain tenun Bali dalam busananya. Hal ini disampaikan oleh Tjokorda Gde Abinanda Sukawati (Tjok Abi) sebagai salah seorang juri.

“Kita pakai tenun Bali, itu harus. Makanya semua pakai tenun, sekitar 70 persen, sisanya harus digabung dengan yang lain, karena kan kalau misalnya modern, apalagi busana malam, pasti ada brokatnya, ada payet, ada semua unsur yang glamor itu ada di situ,” ujar Tjok Abi.

Sementara busana malam rancangan Lady Athalia yang memakan waktu seminggu proses pengerjaan ini berhasil mencuri perhatian para juri.

“Dari daya pakai, dia sudah pasti sangat berdaya pakai. Kemudian unsur kain tradisionalnya sangat kental. Jadi, dia memadukan dua kain tradisional, yaitu endek dengan kain kotak-kotak Bebali. Jadi itu kental sekali, dan kita memilih itu. Dia simple, dia elegan, dan itu yang bisa berdaya pakai tinggi kalau menurut kita,” puji Tjok Abi. (*)