ISI Denpasar Pentaskan Komedi Stamboel, Begini Sejarahnya

oleh
Pementasan Komedi Stamboel bertajuk Pan Balang Tamak di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar, Selasa (5/11/2019) malam. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Institut Seni Indonesia Denpasar mementaskan Komedi Stamboel dengan kisah asli Bali yang melegenda bertajuk Pan Balang Tamak, di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar, Selasa (5/11/2019) malam.

Dikutip dari denpasar.go.id, istilah ‘Komedie Stamboel’ merujuk pada pertunjukkan mirip opera ada abad ke-19 dengan beberapa babak. Pertunjukan ini digemari oleh warga Hindia Belanda dan berisikan lawak, lagu, dan tarian. Sementara itu, istilah Stamboel merujuk pada kegemaran orang Mahleu dalam menggunakan topi tradisional Turki. Masyarakat Hindia Belanda, kemudian menyebut ibu kota negara Turki (Istanbul) sebagai Stambul. Demikian asal usul nama jenis komedi ini.

Adapun karena berasal dari wilayah timur tengah, Komedi Stamboel biasanya menampilkan cerita-cerita seperti 1001 Malam. Namun dalam perkembangannya, Komedi Stamboel kini juga beradaptasi sehingga menampilkan cerita-cerita lain.

“Di Bali, stamboel itu berkembang dan mempengaruhi jenis pertunjukan, seperti Janger, itu ada unsur stamboelnya. Kemudian, biasanya stamboel itu kan menampilkan cerita-cerita Timur Tengah, seperti Aladin, namun kita kali ini karena dalam konsep Festival Seni Bali Jani, kita hanya mengambil konsep dari stamboel itu, tapi kami ingin menunjukan bahwa inilah konsep stamboel ala kita,” ujar Dr. I Komang Sudirga, S.Sn, M.Hum, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar yang sekaligus penanggung jawab pertunjukan komedi stamboel ini.

BACA JUGA:

Cerita Pan Balang Tamak yang ditampilkan ini masih mengambil jalan cerita klasik tentang sosok Pan Balang Tamak sebagai tokoh yang bersifat cerdik  dan kritis menggunakan kecerdikannya untuk memeras para tetangganya yang melakukan pelanggaran hukum sekecil apapun. Pan Balang Tamak, yang telah menyinggung semua orang termasuk sang Raja, akhirnya tewas setelah meminum racun yang diberikan oleh sang Raja. Namun, kematian ternyata tak menghentikan kecerdikan Pan Balang Tamak sampai di sana.

“Dalam mengangkat cerita ini, bukan sisi kelucuannya yang ingin kita tonjolkan, namun sifat kritis seorang Pan Balang Tamak yang pada zaman dahulu menggunakan sistem ‘suara Raja adalah suara Tuhan’. Nah dalam konteks itu, dia berani menunjukan sikap kritisnya dan dia mampu terhindar dari jeratan hukum. Dalam konteks kekinian, kita ingin menunjukan ke masyarakat luas bahwa cerita Balang Tamak ini patut kita contoh bahwa siapa pun penguasanya, tidak boleh gegabah dalam menerapkan hukum,” jelas I Komang Sudirga.

Namun, pendapat ini juga tak serta merta membenarkan semua tindakan Pan Balang Tamak. Tak hanya berupa kritik terhadap penguasa, namun tokoh Pan Balang Tamak juga merupakan sebuah kritik bagi masyarakat yang gemar melakukan interprestasi hukum sendiri.

“Jadi, hukum harus ditegakkan dengan tegas, dengan lugas, agar tidak muncul multi interpretasi, di mana ini menimbulkan banyak pembenaran jadinya. Kita juga dalam konteks ini tidak menginginkan juga pembenaran yang dilakukan seorang diri. Pan Balang Tamak, demi tujuannya sendiri dia membenarkan segala sesuatunya bukan dengan kebenaran umum, tapi kebenaran pribadi,” lanjut I Komang Sudirga.

Pertunjukan yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa ini melibatkan kurang lebih 150 orang aktor, pemusik, penari, dan para konseptor baik dari segi gerak, musik, tari, dan tabuh. Hebatnya, musik dalam teater Komedi Stamboel ini menggabungkan unsur modern dan tradisional, diiringi musik tabuh berpadu dengan musik orkestra ala barat. “Ini tantangan yang luar biasa, syukur, kami memiliki sumber daya yang memiliki latar belakang musik tradisi dan juga musik barat. Sehingga mereka tidak begitu kesulitan untuk menyusun itu walau pun bagi pemainnya sendiri membutuhkan waktu untuk melakukan proses penggabungan itu,”  tuntas Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ini. (*)