Ini Tekad Gubernur Bali setelah Pensiun Akhir Agustus 2018

oleh
Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat berbincang dengan Kelompok Media Bali Post di ruang kerjanya, Kamis (26/7/2018). (Humas Pemprov Bali)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Setelah melalui dua periode masa jabatan, Gubernur Bali Made Mangku Pastika akan memasuki masa purnatugas pada akhir Agustus 2018. Meski nantinya sudah tidak menjabat sebagai Gubernur, dia tidak akan menghilang begitu saja. Pastika akan tetap mengabdikan setiap detik sisa hidupnya untuk Bali.

Penegasan itu disampaikan Pastika dalam sesi wawancara khusus dengan Kelompok Media Bali Post di ruang kerjanya, Kamis (26/7/2018).

Menurut Pastika, apa yang dikatakannya bukan semata slogan atau ucapan klise. Sebab, komitmen untuk mengabdikan sisa hidup untuk Bali telah tertanam dalam lubuk hatinya.

“Saya tidak akan hilang, mau terpilih ataupun tidak sebagai anggota DPD RI. Setiap detik sisa hidup akan saya abdikan untuk Bali,” ujar Pastika seperti dilansir laman birohumas.baliprov.go.id.

Melalui kesempatan itu, Pastika secara khusus mengucapkan terima kasih kepada seluruh komponen masyarakat atas dukungan yang diberikan selama ini, sehingga Program Bali Mandara dapat berjalan dengan baik.

“Namun, perjuangan kita belum usai, tantangan Bali ke depan akan makin berat,” tutur Pastika yang didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra.

Untuk itu, Pastika mengingatkan masyarakat Bali agar bersatu. Dengan bersatu, kata dia, banyak hal yang bisa dibangun dan dicapai. “Apapun soroh dan profesinya, kita harus bersatu. Jangan bertengkar antar saudara, karena hal itu akan dimanfaatkan pihak luar,” tandasnya.

Pada bagian lain, Gubernur Pastika juga menerangkan capaian 10 Tahun Program Bali Mandara. Sejumlah program unggulan yang cukup visioner dan berhasil menyita perhatian, antara lain JKBM yang saat ini telah terintegrasi dengan JKN, SIMANTRI, Bedah Rumah, Gerbangsadu, SMAN/SMKN Bali, RS Bali Mandara, RS Mata Bali Mandara dan lainnya.

Menurut dia, seluruh program unggulan itu diarahkan pada upaya pengentasan kemiskinan. Saking getolnya pada upaya pengentasan kemiskinan, Pastika mengaku ada pihak yang menilainya terlalu lebay (berlebihan).

“Bagi saya tak masalah, karena idealnya memang harus begitu, sesuai dengan amanat Sila ke-5 Pancasila yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” terangnya.

Meski banyak tantangan yang dihadapinya dalam mengawal pelaksanaan Program Bali Mandara, tetapi semangat Mangku Pastika tak pernah redup. Berbagai tantangan itu dihadapinya dengan kesabaran, bekerja sungguh-sungguh dan ikhlas.

Berbekal semangat itu, Pastika tak pernah merasakan duka selama menjalankan tugas-tugas sebagai Gubernur Bali. (*)