Ini Sosok Dokter Polwan Pertama di Misi Perdamaian Dunia FPU

oleh
Ipda dr. Ria. (ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com Cantik, ramah, dan bersahaja. Itulah kesan yang tertangkap dari penampilan Ipda dr. Ria. Namun, di balik kesan low profile itu, polwan berusia 31 tahun ini ternyata dokter polwan pertama yang bertugas di misi perdamaian dunia Formed Police Unit (FPU).

Dari 200 pasukan yang disipakan untuk penugasan misi perdamaian dunia Formed Police Unit (FPU), 23 di antaranya merupakan polisi wanita (polwan). Di antara 23 srikandi tangguh itu, ada Ipda dr. Ria, dokter polwan yang sebelumnya berdinas di Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Barat (Sulbar).

“Motivasi gabung di FPU (Formed Police Unit), karena ingin menjadi pionir. Sebelumnya, belum pernah ada dokter perempuan dalam formasi FPU dan ini misi pertama di daerah baru. Senior saya di Biddokes yang mengikuti misi Sudan FPU Unamid semuanya laki-laki,” ujar Ipda dr. Ria.

Ipda dr. Ria mengaku tertarik terlibat di pasukan FPU sejak tahun 2017. Namun, saat itu Polri belum melibatkan polwan. Saat mendapatkan kesempatan berangkat untuk misi perdamaian ini, Ipda dr. Ria benar-benar menyiapkan dirinya sebaik mungkin melalui pelatihan mental, spiritual, dan fisik.

Tactical trainning seperti menembak jelas bukan basic saya. Tapi, karena kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, yang awalnya bukan basic kemampuan, sekarang menjadi kebutuhan yang harus dipelajari untuk bisa menjalani misi,” ujar dara berdarah Sumatera ini.

Perempuan kelahiran Palembang yang mahir berbahasa Jerman dan Inggris ini berharap kehadirannya sebagai dokter polwan pertama FPU Polri dapat menginspirasi dokter-dokter polwan lainnya.

“Melalui ini, saya berharap bisa menjadi pembuka jalan bagi polwan-polwan lain, terutama dokter polwan untuk mengasah kemampuan dalam misi-misi FPU selanjutnya,” pungkasnya.

Sementara Karo Misi Internasional Divisi Hubungan Internasional Polri, Brigjen Pol. Krishna Murti mengatakan kontingen FPU tersebut merupakan yang pertama dari Indonesia yang menghadirkan polwan bukan sebagai tim pendukung, tetapi ada juga tim taktis, SWAT, dan dokter polwan. (*/Sir)