Ini Resiko Bahaya Abu Vulkanik pada Anak

oleh
Bayi pengungsi Gunung Agung sangat rentan pada resiko bahaya debu vulkanik. (Foto: Tjg)
banner 300250
Jakarta, suarabali.com – Potensi ancaman bahwa Gunung Agung akan meletus semakin kuat. Selain aktifitas erupsi yang tak pernah berhenti, luncuran lava dingin serta semburan material batu dan debu vulkanik masih terus terjadi. Ratusan petugas dari Tim SAR, TNI dan Polri pun sudah disiagakan di sejumlah titik untuk melakukan langkah-langkah evakuasi jika letusan dahsyat Gunung Agung terjadi.
Untuk itu, warga pun dihimbau untuk lebih berhati-hati, terutama anak-anak yang memiliki resiko lebih besar dibandingkan orang dewasa. Hal itu disebabkan ukuran fisik yang lebih kecil membuat resiko kesehatan terhadap mereka meningkat.
Diingatkan supaya anak-anak sebaiknya selalu berada di dalam ruangan selama abu vulkanik masih terus mengintai dan orangtua sebaiknya menjaga anaknya untuk menghindari permainan yang menguras energi fisik, karena saat lelah akan membuat nafas menjadi berat dan dampaknya akan menarik partikel abu vulkanik masik lebih dalam ke paru-paru dan akan berdampak pada gangguan pernafasan akut.
Gangguan pernafasan akut memanglah dampak utama dari abu vulkanik. Pada umumnya mereka yang menghirup abu vulkanik akan mengalami iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, bronchitis, sesak nafas, hingga penyempitan saluran nafas. Sayangnya, gangguan pernafasan kerap kali dianggap sebagai penyakit sepele. Padahal, gangguan pernafasan bisa menyebabkan masalah serius yang berujung pada kematian.
Patut diketahui, partikel abu vulkanik yang sangat halus jika dilihat dengan kaca pembesar berbentuk runcing yang dapat merobek paru-paru siapapun yang menghirupnya. Selain itu, paparan abu vulkanik juga sangat berbahaya bagi bayi, anak-anak, warga usia lanjut dan orang dengan penyakit paru kronis, seperti asma.
Abu vulkanik tidak hanya menyebabkan gangguan pernafasan akut, tetapi juga akan berdampak pada kesehatan mata, dan juga iritasi kulit. Oleh sebab itu, warga di kawasan Gunung Kelud diharapkan dapat lebih berhati-hati dan menjaga kesehatan. (Meetdoctor/Tjg)