Ini Komentar Hendardi Terkait Puisi Sukmawati yang Kontroversial

oleh
Sukmawati Soekarnoputri. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Puisi Sukmawati  Soekarnoputri yang memuat kata ‘azan’ dan ‘cadar’ menjadi kontroversi. Bahkan, sudah ada beberapa pihak yang melaporkan Sukmawati ke kepolisian atas dugaan melanggar pasal penodaan agama.

Sama seperti pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), niat jahat (means rea) dan konteks dimana Sukmawati menyampaikan puisi itu bisa saja menjadi argumen hukum bahwa puisi itu bukanlah bentuk penodaan agama melainkan bentuk kebebasan berekspresi dan berpendapat setiap warga.

“Namun, karena rumusan delik penodaan agama yang absurd tolok ukurnya, maka pihak lain yang tidak sependapat kemudian mempersoalkannya dengan dalil penodaan agama. Meskipun dalam disiplin HAM, tidak dikenal istilah penodaan agama,” kata Ketua Setara Institute Hendardi di Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Namun demikian, menurut Hendardi, perlu diingat semua pihak bahwa due process of law tuduhan kasus-kasus penodaan agama, sebagaimana diatur dalam UU No. 1/PNPS/1965 sebagai genus Pasal 156a KUHP,  musti dilakukan secara bertahap dengan peringatan dan teguran. Pilihan pemidanaan adalah opsi terakhir yang bisa ditempuh setelah proses klarifikasi itu dilakukan dan peringatan diabaikan.

“Kalau kita baca substansi puisi Sukmawati secara jernih, sebenarnya tidak ada substansi yang benar-benar bermasalah dari sisi SARA. Puisi Sukmawati yang sangat verbalis itu merupakan ekspresi seni yang memiliki derajat kebenaran faktual memadai, karena justifikasi faktualnya sebenarnya memang ada,” jelasnya.

Dalam situasi sosial yang terbelah, kata Hendari, isu semacam itu menjadi pemantik yang efektif untuk kembali membelah masyarakat. Apalagi di tengah kontestasi politik Pilkada 2018, Pileg, dan Pilpres 2019. “Politisasi dipastikan akan menguat,” tegasnya.

Agar tidak menguras energi publik dalam kontroversi tersebut, menurut dia, klarifikasi yang dilakukan keluarga Soekarno pada Selasa (3/4/2018) diharapkan bisa meredakan situasi. Jika diperlukan, kata dia, Sukmawati juga bisa memberikan penjelasan.

“Sementara atas pengaduan yang sudah disampaikan, secara prosedural biarkan polisi bekerja memproses laporan yang sudah masuk tanpa perlu tekanan yang sarat motif politiknya,” ungkapnya.

“Pelaporan Sukmawati juga mempertegas momentum bahwa kita harus segera mereformasi hukum penodaan agama dalam sistem hukum Indonesia. Sehingga, ada batasan jelas ihwal penodaan agama yang selama ini sering mengkriminalisasi kebebasan ekspresi warga,” imbuhnya. (Tjg/Sir)