Ini Komentar Herdardi Terkait Kasus Pengibaran Bendera di Rumah Habib Rizieq

oleh
Ketua SETARA Institute, Hendardi. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Ketua Setara Institute Hendardi menilai tuduhan Habib Rizieq Shihab (HRS) atas rekayasa kasus pengibaran bendera di tembok belakang rumahnya di Arab Saudi oleh pemerintah Indonesia, tidaklah berdasar dan hanya menunjukkan upaya dirinya menjadi tokoh yang ingin diperhitungkan dalam konstalasi politik Indonesia.

“Cara itu juga merupakan upaya melanggengkan pengaruh pada para pengikutnya, sehingga tetap berada dalam satu barisan dan imamah terhadap HRS, yang ujungnya adalah untuk kepentingan politik praktis dalam Pilpres 2019,” kata Hendardi kepada suarabali.com.

Perlu diketahui, kata Hendardi, semua otoritas negara Arab Saudi sebagai negara yang berdaulat tentu tidak mungkin ada campur tangan dari negara lain. Jadi, masalah adanya bendera hitam di kediaman HRS di Arab Saudi tidak perlu ditanggapi berlebihan oleh pemerintah dan unsur aparat keamanan.

“Dugaan, kecurigaan serta tudingan pengikut HRS sebagai perbuatan dari unsur aparat negara RI seperti BIN, di samping tidak logis juga hanya fantasi, ilusi, dan dugaan kuat merupakan bentuk politisasi sebagai seolah-olah korban,” ungkapnya.

Hendardi mengatakan setiap warga negara Indonesia di luar negeri harus dilindungi pemerintah RI, tidak terkecuali HRS. Namun, mesti terus diingat bahwa status HRS adalah pelarian dari beberapa kasus yang melilitnya di Indonesia, termasuk chatting porno yang diduga melibatkan dirinya.

“HRS memilih menghindar menghadapi hukum di Tanah Air, namun tetap mencoba bermain politik di negara orang  yang konsekuensinya juga kerap mesti berhadapan dengan hukum di negara tersebut,” ujarnya.

Menurut dia, upaya bantuan yang telah dilakukan oleh perwakilan pemerintah RI di Arab Saudi sudah jauh lebih dari cukup kepada HRS sebagai WNI yang ada di luar negeri, yang justru menghindar dari proses hukum di Indonesia. (*)