Ini Kekhawatiran Wagub Sudikerta Terkait Kondisi Gunung Agung

oleh
Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta bertemu Plt. Manajer Operasional Pura Besakih, I Wayan Ngawit, di ruang kerjanya, Rabu (4/7/2018). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta yang juga Ketua Badan Pengelola Kawasan Besakih mengkhawatirkan kondisi Gunung Agung yang akhir-akhir ini kembali erupsi.

“Pemerintah belum berani menyatakan kawasan Besakih ditutup atau tidak, karena situasi dan kondisi belum pasti. Sedangkan Pura Besakih merupakan tempat yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Hindu Bali,” kata Sudikerta saat menerima audiensi Manajemen Operasional Pura Besakih di ruang kerjanya, Rabu (4/7/2018).

Sudikerta mengatakan kegiatan di Pura Besakih akan terus berlangsung setiap hari. Begitu juga wisatawan masih terus berkunjung ke Pura Besakih. “Oleh sebab itu, Manajemen Operaional Pura Besakih harus terus berkoordinasi dengan PVMBG agar segala info tebaru bisa diketahui,” tegas Sudikerta yang didampingi Assisten I, Ida Bagus Kade Subhiksu.

Sudikerta juga berharap kondisi Gunung Agung akan tetap stabil, aman, dan terkendali. Sebab, isu Gunung Agung yang beraktivitas tidak hanya berdampak fisik di daerah sekitar, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial ekonomi seluruh masyarakat Bali, khususnya pariwisata.

Sementara Plt. Manajer Operasional Pura Besakih, I Wayan Ngawit, mengatakan sampai saat ini Pura Besakih tetap buka. Embusan asap dan abu Gunung Agung sama sekali tidak berdampak pada aktivitas di Pura Besakih dan sekitarnya. Sebab, asap dan  embusan mengarah ke barat.

“Masyarakat yang tangkil karena rangkaian upacara keagamaan tetap bisa bersembahyang dan melakukan prosesi. Hanya saja kunjungan wisatawan terjadi penurunan sampai 50%,” katanya.

Menurut dia, penduduk di kawasan Besakih masih tetap berada di desanya masing-masing dan tidak mengungsi. Hanya warga dua desa yang mengungsi, yaitu Desa Temukus yang jaraknya 3,5 kilometer dan Desa Kesimpar yang berjarak 4 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Alasan watga mengungsi juga akibat akses menuju ke desa tersebut harus melewati sungai tempat mengalirnya lahar dari puncak Gunung Agung. Sehingga, warga takut kalau terjadi hujan dan air sungai meluap, desanya akan terisolasi dan akan sulit mendapatkan bantuan.

“Makanya, mereka memilih mengungsi mendahului ke tempat yang aman,” pungkasnya. (*/Sir)