Ini Kejadian Lucu Saat Presiden Bagikan Sertifikat Tanah di Tabanan

oleh
Presiden Joko Widodo menyerahkan 15 ribu sertifikat tanah kepada warga Tabanan di Monumen Perjuangan Margarana, Tabanan, Bali Jumat (23/2/2018). (Ist)
banner 300250

Tabanan, suarabali.com – Ada kejadian menarik saat Presiden Jokowi menyerahkan 15 ribu sertifikat hak atas tanah kepada masyarakat di Taman Pujaan Bangsa Candi Margarana, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (23/2/2018). Seperti biasanya, Presiden Jokowi memberi kuis berhadiah sepeda.

Presiden memberikan kuis kepada seorang mahasiswa bernama Pitaloka. Saat itu, Presiden meminta kepada Pitaloka untuk menyebutkan tujuh nama ikan.

Pitaloka yang memiliki tanah seluas 1.575 meter persegi tersebut kemudian menjawab dengan menyebut: ikan teri, ikan koi, ikan mas, ikan hiu, ikan pari, ikan lumba-lumba.

Ketika hanya tinggal satu nama ikan lagi, Pitaloka menyebutkan: ikan putri duyung dan ikan kuda nil.

Masa ikan putri duyung, itu hanya ada di cerita komik. Ikan kuda nil?” kata Presiden tersenyum.

Akhirnya Pitaloka berhasil menebak tujuh nama ikan dengan menyebut: ikan lele.

“Ya sudah makasih, silakan dibawa sepedanya,” kata Kepala Negara.

Tak puas sampai di situ, Pitaloka tidak segera kembali ke tempat duduknya usai mendapatkan hadiah sepeda. Pitaloka justru membawa sepedanya ke atas panggung untuk berfoto bersama Presiden.

“Sudah dapat sertifikat, dapat sepeda, dapat foto. Semua dapat,” kata Presiden.

15 Ribu Sertifikat

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi menyerahkan 15 ribu sertifikat hak atas tanah kepada masyarakat Kabupaten Tabanan. “Setiap saya ke daerah-daerah, yang masuk ke telinga saya selalu soal sengketa tanah,” ucap Presiden mengingatkan kepada masyarakat pentingnya memiliki sertifikat hak atas tanah.

Dalam laporan yang diterimanya, saat ini 1.343.141 bidang tanah dari 1.838.503 bidang tanah yang ada di Bali telah bersertifikat. Sisanya, sebanyak 495.362 bidang tanah belum bersertifikat dan akan diselesaikan dalam dua tahun kedepan.

“Tahun depan (2019) Provinsi Bali adalah provinsi pertama yang semua pemilik tanah akan pegang sertifikat,” kata Presiden.

Kepemilikan hak atas tanah memang wajib dibuktikan dengan sertifikat sebagaimana Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria mengamanatkan. Sertifikat menjadi bukti tertulis yang mendapatkan pengakuan hukum, sehingga memberikan rasa aman kepada pemiliknya.

“Sudah tidak ada yang bisa mengklaim, karena di sertifikat ada nama serta luas,” kata Presiden.

Presiden juga mengatakan, dari 126 juta bidang tanah yang ada di Tanah Air, hingga tahun 2017 baru 51 juta bidang tanah yang bersertifikat. Hal ini disebabkan, penerbitan sertifikat hak atas tanah sebelumnya hanya menghasilkan 500 ribu sertifikat setiap tahunnya di seluruh Indonesia.

Oleh sebab itu, pemerintah mempercepat proses sertifikasi tanah dengan target 5 juta sertifikat pada tahun 2017.

“Target tahun ini sejumlah 7 juta sertifikat dan untuk tahun depan sejumlah 9 juta sertifikat,” kata Kepala Negara.

Dalam kesempatan itu, Presiden berpesan kepada masyarakat penerima sertifikat untuk menjaga dan menyimpan sertifikat yang dimiliki di tempat yang aman. Selain itu, Presiden juga meminta mereka untuk melakukan kalkulasi terlebih dahulu apabila ingin mengagunkan sertifikatnya di bank.

“Hati-hati pinjam di bank. Kalau dapat, gunakan semua untuk kerja, investasi, modal kerja. Jangan dipakai apa-apa dulu. Kalau untuk menabung setelah cukup, beli motor, mobil silakan,” kata Kepala Negara. (Dsd/Sir)