Ilmuwan Rusia Akan Kloning Jasad Singa Gua Purba Berusia 50.000 Tahun

oleh
banner 300250

Rusia, suarabali.com – Seekor singa gua purba yang ditemukan membeku utuh baru-baru ini ditemukan di Republik Yakutia, Siberia Rusia, membuat gembira para ilmuwan karena dengan ditemukan mayat hewan predator prasejarah ini maka akan ada kemungkinan untuk mengkloningnya.

Jasad singa gua yang membeku antara 20.000 atau 50.000 tahun yang lalu, ditemukan oleh pengembang lapisan bawah tanah setempat di permafrost di tepi sungai Tirekhtyakh di distrik Abyisky di Yakutia pada awal musim gugur.

Demikian kata periset di Akademi Ilmu Pengetahuan Republik Sakha (Yakutia) saat mereka mempresentasikan temuan tersebut ke publik pekan lalu.

Anak singa itu berusia sekitar satu setengah sampai dua bulan saat meninggal, kata ahli biologi tersebut.

Seks dan usia yang tepat akan ditetapkan selama penelitian lebih lanjut, yang mungkin memakan waktu beberapa tahun, mereka menambahkan. Dua singa utuh yang ditemukan di Yakutia menjadi berita utama pada tahun 2015, namun anakan hewan yang baru ditemukan ini “bahkan kondisi mayatnya jauh lebih sempurna,” Albert Protopopov, yang memimpin Departemen Studi Mammoth Fauna di Akademi, mengatakan.

Menurut Protopopov, kondisi unik anak singa yang diawetkan utuh oleh kondisi beku bahkan bisa membuat kemungkinan spesies singa gua hidup kembali.

“Kloning melalui teknologi klasik ketika inti sel hidup ditanamkan ke dalam telur tidak mungkin dilakukan. Tapi saat ini pekerjaan serius sedang dilakukan dalam rangka rekonstruksi DNA dan seseorang dapat mencoba menggabungkan DNA singa gua yang ditanamkan ke dalam DNA singa modern,” katanya.

“Karena singa gua sangat dekat dengan keluarga singa Afrika modern, kemungkinan kehadiran mereka jauh lebih tinggi daripada gajah mamoth, yang tidak memiliki kerabat lebih dekat dari pada gajah India,” tambah Protopopov seperti yang dikutip oleh kantor berita Tass.

Singa gua itu tinggal di era Pleistosen Akhir, periode yang sama dengan mammoth wol, dan punah sekitar 10.000 tahun yang lalu. Pemangsa ini sedikit lebih besar dari singa modern, tidak memiliki surai dan rumbai di ujung ekor.

Para ilmuwan dari Mammoth Museum of North-Eastern Federal University bersama rekan-rekan Korea Selatan mereka sekarang bekerja untuk membangun kembali struktur DNA dari kulit mamoth yang terawetkan dengan baik yang ditemukan di Yakutia pada tahun 2015 dengan harapan bisa mengkloning hewan di masa depan. (Hsg)