Hoax Ratna Dianiaya Terbongkar, Farhat Abbas Polisikan Prabowo dan 16 Politikus

oleh
Farhat Abbas dan berkas laporannya ke Bareskrim Polri. (Foto: CNN Indonesia)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Geger berita terkait penganiayaan Ratna Sarumpaet berbuntut panjang. Setelah aktivis perempuan ini mengaku merekayasa informasi penganiayaan dirinya, sejumlah pihak pun berekasi dengan melaporkan tokoh-tokoh yang diduga ikut menyebarkan informasi hoax tersebut ke polisi.

Farhat Abbas, misalnya, melaporkan 17 politikus nasional, termasuk di antaranya calon presiden Prabowo Subianto, ke Bareskrim Polri.

Farhat yang tergabung dalam Komunitas Pengacara Indonesia Pro Jokowi (Kopi Pojok) melaporkan para politikus itu soal dugaan ujaran kebencian mengenai kasus Ratna Sarumpaet. Adapun pihak yang dilaporkan Farhat mulai dari Prabowo Subianto hingga Rachel Maryam.

“Kami melaporkan 17 tokoh nasional serius dan calon presiden,” kata Farhat Abbas di Bareskrim Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Laporan Farhat Abbas itu bernomor LP/B/1237/X/2018/BARESKRIM dan diterima polisi dengan nomor STTL/1007/X/2018/BARESKRIM.

Dalam rilisnya yang diterima suarabali.com, Farhat menganggap berita bohong mengenai penganiayaan Ratna Sarumpaet yang disebar merugikan calon presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Farhat menganggap para politikus beramai-ramai menggunakan berita Ratna Sarumpaet untuk menjatuhkan Jokowi.

“Yang kami laporkan berkaitan dengan konspirasi dan permufakatan jahat, fitnah Ratna Sarumapet dirinya seolah-olah dizalimi,” ungkap Farhat.

“Cerita ini dimanfaatkan Prabowo dan Amien sebagai kampanye hitam menjatuhkan calon presiden saya nomor 1,” lanjut dia.

Menurut Farhat, Prabowo kurang mempelajari dan tidak teliti dalam mengonfirmasi kasus. Malah Prabowo membuat konferensi pers bersama Amien Rais untuk menggiring opini kasus Ratna adalah kasus pelanggaran HAM.

“Sementara Fadli mengatakan semua pasti ada kaitan dengan politik. Dianiaya karena Jurkam Prabowo. Padahal, yang dianiaya tidak ada. Seolah-olah ini rezim diktator,” ujarnya.

Di sisi lain, Farhat juga melaporkan Sandiaga lantaran pernyataannya soal Ratna yang ketakutan dan trauma. Farhat menyayangkan sekelas calon wakil presiden tidak memahami betul kasus Ratna.

“Berarti dari mana Sandiaga tahu? Sandiaga bilang sudah melihat foto Pak Prabowo. Nah, Calon Wakil Presiden harus berpikir baik kan,” ungkapnya.

Farhat mendesak polisi menetapkan 17 politikus itu menjadi tersangka mengingat Ratna Sarumpaet telah mengakui bahwa tidak pernah ada penganiayaan.

Politikus yang dilaporkan Farhat Abbas ke polisi adalah Prabowo Subianto, Ratna Sarumpaet, Fadli Zon, Rachel Maryam, Rizal Ramli, Nanik Deang, Ferdinand Hutahaean, Arief Puyono, Natalius Pigai, Fahira Idris, Habiburokhman, Hanum Rais, Said Didu, Eggy Sudjana, Captain Firdaus, Dahniel Azar Simanjuntak, dan Sandiaga Uno.

“Kami bawa video rekaman Prabowo wawancara Sandiaga Uno, twitter Fadli Zon dan Rachel Maryam, dan lain-lain sebagai bukti,” katanya.

Mereka dilaporkan atas dugaan pelanggaran tindak pidana ujaran kebencian (hate speech) dan penyebaran berita bohong (hoaks). Hal ini tercantum dalam Undang Undang No. 19 Tahun 2016 dan Undang Undang Nomor 1 Tahun 1946. (*)