Hendardi: Daya Rusak Kelompok MCA Lebih Dahsyat dari Saracen

oleh
Direktorat Siber Bareskrim Polri baru-baru ini enam orang dari kelompok Moslem Cyber Army (MCA) yang menebar berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Ketua Setara Institute Hendardi menilai penyebaran hoaks dan ujaran kebencian sengaja (by design) diproduksi dan disebarluaskan oleh kelompok tertentu dengan tujuan tertentu pula.

Hendari mengatakan hal itu terkait dengan penangkapan enam tersangka penyebar konten hoaks dan ujaran kebencian oleh Direktorat Siber Bareskrim Polri, beberapa hari lalu.

“Praktik semacam itu bukan hanya membahayakan kontestasi politik, tetapi yang utama adalah membelah masyarakat pada pro dan kontra tentang suatu konten informasi dan ini membahayakan bagi kohesi sosial kita,” ungkap Hendardi kepada suarabali.com, Kamis (1/3/2018).

Dia mengatakan penangkapan tersangka secara simultan di Surabaya, Bali, Sumedang, Pangkalpinang, Palu, dan Yogyakarta, menggambarkan bahwa kelompok yang diidentifikasi sebagai Moslem Cyber Army (MCA) memiliki sebaran hampir di seluruh Indonesia.

Sebagai gerakan yang didesain, menurut dia, Direktorat Siber harus mampu melacak aktor-aktor intelektual di balik MCA untuk melindungi masyarakat dari paparan berita bohong dan kebencian. Melihat personel dan pola gerakannya, kelompok MCA ini agak berbeda dengan Saracen yang memiliki struktur jelas dan motif ekonomi dominan.

“Kelompok MCA tampak lebih ideologis, memiliki banyak sub kelompok dan ribuan anggota di seluruh Indonesia dengan ikatan organisasional relatif cair. Oleh karena itu, daya rusak kelompok ini lebih besar daripada Saracen,” ungkapnya.

Jika merujuk pada konten yang disebarkan, Hendardi menilai, pesan-pesan kelompok MCA mengarahkan kebencian itu pada partai politik atau tokoh yang saat ini menjalankan kepemimpinan nasional.

Secara sederhana dapat disimpulkan, kata dia, pekerjaan ini datang dari kelompok penentang. Asumsi yang mengatakan bahwa hoaks dan kebencian sengaja diproduksi oleh tangan negara, terbantah dengan melacak rekam jejak MCA dalam banyak isu.

“Namun demikian, untuk memastikan dugaan ini, Polri perlu membongkar tuntas jejaring pelaku, mediator, pemesan, dan penikmat hoaks dan ujaran kebencian ini,” katanya.

Publik mesti berperan dalam menumpas kelompok-kelompok serupa dengan aktif melaporkan mereka yang secara regular melakukan penyebaran konten berita palsu dan ujaran kebencian berbasis sentimen SARA.

Bukan hanya di dunia maya, tetapi juga hoaks dan ujaran kebencian yang dibungkus sebagai pesan moral  agama dan disebarluaskan melalui mimbar-mimbar keagamaan. Jejaring penebar hoaks dan ujaran kebencian pada kelompok ini juga sama bahayanya dengan mereka yang bekerja di dunia maya.

“Di tahun elektoral tingkat lokal dan nasional 2018 dan 2019, kita mempunyai kebutuhan akan ruang publik-politik yang mempersatukan, bukan memecah-belah, demi kompetisi politik yang jujur, adil dan membangun. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan sinergi dan partisipasi publik,” pungkas Hendardi. (Tjg/Sir)