Harga Tiket Pesawat Melangit, Calon Penumpang Terjepit

oleh
Ilustrasi. Foto: Budi Hariyanto Tanjung)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Sejumlah penumpang pesawat merasa limbung. Pasalnya, harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik melambung tinggi. Akibatnya, banyak calon penumpang yang mengurungkan niatnya membeli tiket penerbangan pada jam-jam tertentu.

Hanjar, satu di antara sekian banyak calon penumpang yang membatalkan jadwal keberangkatan. Pria lajang ini terpaksa mengurungkan niatnya membeli tiket untuk penerbangan Surabaya – Jakarta pada Selasa (15/1/2019) pagi, lantaran harganya mahal.

Dia mengungkapkan, untuk penerbangan dari Surabaya (Juanda) menuju Jakarta (Soekarno-Hatta), harga tiket pesawat rata-rata naik 50 persen. Dia mencontohkan, harga tiket pesawat Lion Air untuk penerbangan Juanda-Soetta pukul 09.05 WIB mencapai Rp 1.129.000. Padahal, pekan lalu harganya masih kisaran Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu untuk penumpang dewasa.

“Karena harga tiket mahal, saya terpaksa membatalkan rencana terbang ke Jakarta untuk urusan pekerjaan,” katanya bernada kesal.

Hanjar menilai kenaikan harga tiket itu tidak logis, karena terlalu tinggi. Itu sebabnya, dia berencana beralih ke moda transportasi kereta api, kendati lama perjalanan dari Surabaya tujuan Jakarta membutuhkan waktu lebih lama.

Lantas, apa yang menyebabkan harga tiket pesawat penerbangan domestik lebih mahal?

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengungkapkan ada beberapa hal yang membuat harga tiket pesawat penerbangan domestik lebih mahal dari luar negeri.

“Di dalam negeri kita kena PPN, di luar negeri tidak kena PPN. Hal tersebut yang buat perbedaan harga,” kata Askhara di Jakarta, Minggu (13/1/2018) seperti dikutip dari laman liputan6.com.

Menurut dia, penerbangan rute luar negeri memiliki banyak frekuensi, sehingga banyak perang harga di sana. Terlebih maskapai yang bermain di rute luar negeri jauh lebih banyak dibanding maskapai yang melayani rute domestik. Itulah faktor-faktor yang memengaruhi harga tiket pesawat.

“Juga supply demand di market. Domestic supply-nya hanya 8 maskapai penerbangan berjadwal yang besar, di luar negeri bisa banyak,” ujarnya.

Sementara Kementerian Perhubungan (Kermenhub) menghendaki agar perang tarif tiket pesawat berakhir, karena menciptakan masalah kenaikan harga tiket pesawat yang dinilai tinggi.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, selama ini maskapai, khususnya kelas low-cost carrier (LCC), melakukan perang harga tiket pesawat.‎ Hal ini berdampak pada penetapan harga tiket. Ketika harga naik, ada kesan kenaikannya tinggi, padahal besaran harga tersebut normal.

“Memang selama ini mereka perang tarif. Begitu harganya normal seolah-olah tinggi,” kata ‎Budi, saat menghadiri silaturahmi nasional (Silatnas) dengan keluarga besar pengemudi Online di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (12/1/2019).

Budi  menuturkan, ‎saat ini kenaikan harga tiket pesawat belum melewati tarif batas atas.  Dia pun meminta kenaikan tarif dilakukan secara bertahap. Saat ini pihaknya membicarakan kondisi tarif tiket pesawat dengan maskapai.

‎”Kita secara umum apa yang dilakukan itu masih di bawah tarif batas atas.  Namun demikian, saya memang ajak mereka untuk secara bijaksana melalukan kenaikan,” tutur Budi.

Budi mengungkapkan, kenaikan tarif tidak bisa dihindari, karena maskapai harus menambal biaya operasi yang naik. ‎Akan tetapi, dia menekankan kenaikan tarif tiket pesawat tidak terlalu tinggi, sehingga tidak menimbulkan keresahan kepada masyarakat akibat kenaikan tarif yang berlebih.

“Kalau ini terus-terusan perang harga akan jadi masalah. Jadi, saya juga imbau masyarakat supaya juga memberikan toleransi, selain airline juga menaikkan jangan terlalu tinggi,” ujarnya. (Tim)