Gubernur Pastika Bantu Kakak-Adik Yatim Piatu di Karangasem

oleh
Kakak-adik yatim piatu, Ni Putu Suniati (19) dan I Komang Gede Suarjana (14), warga Banjar Tihingan Kauh, Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem. (Ist)
banner 300250

Karangasem, suarabali.com – Gubernur Bali Made Mangku Pastika membantu dua anak yatim piatu, Ni Putu Suniati (19) dan I Komang Gede Suarjana (14). Kakak-adik itu warga Banjar Tihingan Kauh, Desa Bebandem, Karangasem, Kabupaten Karangasem.

Bantuan Gubernur Bali diserahkan melalui staf Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali yang mengunjungi tempat tinggal anak yatim piatu tersebut.

Kakak-adik itu sudah ditinggal meninggal oleh ibunya, Ni Wayan Luh Asih, tujuh  tahun silam. Keadaan mereka makin pedih lantaran bapaknya, I Ketut Lepir, yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga juga meninggal 6 hari lalu akibat penyakit kanker limpa yang dideritanya sejak 6 bulan lalu.

Dari data desa dan administrasi kependudukan, mereka memang tercatat sebagai warga dari rumah tangga miskin yang sudah mendapatkan beras sejahtera setiap 1 bulan. Mereka juga sudah memiliki BPJS dan masuk dalam Program Keluarga Harapan (PKH) yang setiap 1 tahun sekali menerima bantuan sebesar Rp 1.800.000.

Hanya saja, I Komang Gede Suarjana yang masih sekolah di SMPN 1 Bebandem belum memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sementara Ni Putu Suniati yang baru saja menamatkan pendidikannya akan memilih bekerja setelah pelaksanaan upacara ngaben bapaknya pada 5 Juni mendatang.

Terkait pemberitaan yang menyebutkan bahwa dua bersaudara yang kini yatin piatu itu terlantar ditampik langsung oleh Prebekel Desa Bebandem I Gede Partadana.

“Kedua anak ini tidak terlantar. Mereka terurus, bahkan memiliki keluarga (paman dan bibi) yang akan saling membahu untuk memperhatikan kelanjutan hidup mereka,” katanya.

Saat ini,  dua bersaudara itu tinggal di rumah yang merupakan bantuan bedah rumah dari Kabupaten Karangasem tahun 2015. Namun sayang, tempat tinggal mereka tidak memiliki kamar mandi, dapur, dan jauh dari jalan desa.

Untuk keperluan makan, mereka tetap mengandalkan bantuan dari paman dan bibi mereka (Nengah Kinten dan Wayan Suweca) yang berprofesi sebagai petani. (*/Sir)