Geger Berita Ratna Sarumpaet Dianiaya, Begini Reaksi Polisi dan Politisi

oleh
Ratna Sarumpaet. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Ratna Sarumpaet sontak menjadi buah bibir dua hari ini. Kali ini, aktivis perempuan itu ramai dibicarakan bukan lantaran kevokalannya mengkritik pemerintah, tetapi beredarnya berita tentang penganiayaan yang dialaminya. Pro-kontra tentang benar tidaknya berita itu ramai menghiasi laman media sosial.

Polisi sendiri mengaku menerima tiga laporan mengenai kabar Ratna Sarumpaet mengaku dianiaya. Dalam tiga laporan itu, polisi diminta mengusut benar-tidaknya penganiayaan terhadap Ratna tersebut. Apabila benar hoax, pelaku penyebar harus diusut.

“Di mana laporan tersebut, mereka mencantumkan dan meminta polisi menyelidiki terkait berita bohong,” ucap Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta di Polda Metro Jaya, Rabu (3/10/2018).

Polisi pun melakukan penyelidikan berdasarkan laporan itu. Laporan tersebut ditujukan kepada pihak-pihak yang diduga menyebarkan hoax berkaitan dengan penganiayaan Ratna.

Itu sebabnya, polisi akan memeriksa Ratna Sarumpaet terkait penyelidikan laporan hoax penganiayaan. Keterangan Ratna Sarumpaet akan melengkapi temuan sementara polisi yang berbeda dengan informasi soal penganiayaan.

“Kami akan melakukan pemeriksaan terhadap Ibu Ratna Sarumpaet,” ujar Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta dalam jumpa pers, Rabu (3/10/2018).

Selain itu, polisi berencana meminta keterangan pihak rumah sakit. Ratna, berdasarkan penyelidikan, diketahui berada di RS Bina Estetika, Menteng, Jakpus, pada 21-24 September.

“Kemudian wajah Bu Ratna Sarumpaet pada saat akan datang ke rumah sakit, bagaimana? Ya kami akan melakukan pendalaman terhadap Bu Ratna Sarumpaet atau keluarganya yang mengantar atau pihak rumah sakit. Butuh waktu, tapi pasti akan kami lakukan,” tegas Nico.

Ada beberapa fakta temuan polisi yang berbeda dengan kabar yang beredar. Pertama, Ratna Sarumpaet, menurut polisi, berada di RS Bina Estetika, Menteng, Jakpus, pada Jumat (21/9/2018), bukan berada di Bandung, yang disebut jadi lokasi penganiayaan.

“Fakta yang didapat, 21 September jam 5 sore sudah masuk di rumah sakit di Bina Estetika,” kata Nico seperti dilansir detik.com.

Fakta kedua, polisi mengecek pernyataan yang dikutip media soal kegiatan internasional yang diikuti Ratna beberapa saat sebelum terjadinya penganiayaan. Polisi memastikan tidak ada kegiatan internasional sebagaimana disebut pihak yang berbicara mengenai kondisi dan kejadian yang dialami Ratna Sarumpaet.

“Kalau tadi merujuk kepada pemberitaan Ibu Ratna Sarumpaet berada di Bandung pada tanggal 21 September bersama dua orang rekannya dari konferensi internasional dan sudah kami cek, tidak ada konferensi internasional,” sambung Nico.

Polisi menegaskan belum menerima laporan dari Ratna atau pihak terkait lainnya atas dugaan penganiayaan. Penyelidikan dilakukan karena ada laporan masuk yang mengadukan soal penyebaran dugaan berita hoax.

Penyelidikan terhadap kabar penganiayaan Ratna dilakukan dengan memeriksa saksi dan alat bukti, seperti rekaman CCTV serta dokumen seperti surat.

Saat ditanya mengenai kepastian hoaks-tidaknya kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet, polisi menegaskan fakta temuan penyelidikan berbeda dengan informasi yang disampaikan pihak terkait Ratna Sarumpaet.

Geger berita tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet sontak membuat sejumlah politisi bereaksi. Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mengungkap soal dugaan penganiayaan itu pun angkat bicara.

Reaksi Kubu Prabowo

“Jadi kan kami berpijak pengakuan yang disampaikan Bu Ratna. Kita berprasangka baik ke beliau,” kata Koordinator Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, seperti diberitakan detik.com, Rabu (3/10/2018).

Pihak Prabowo-Sandi menyatakan Ratna Sarumpaet dianiaya pada 21 September 2018 malam di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Peristiwa itu disebut terjadi usai Ratna menghadiri sebuah konferensi internasional di Bandung. Namun, polisi menemukan bukti yang membantah dua hal tersebut.

Dahnil menyatakan pihaknya tidak mencoba mengecek kebenaran pengakuan Ratna. Mereka bermodal kepercayaan saja kepada aktivis itu. “Sumber dan informasi kami dari Bu Ratna. Tentu kan tim sangat sensitif dengan isu-isu kemanusiaan,” kata Dahnil.

“Kita percaya penuh terhadap Bu Ratna, karena beliau perempuan teguh. Tidak ada terbersit sama sekali bahwa Bu Ratna bohong,” imbuhnya.

Prabowo sempat menemui Ratna dan disebut mendapat penjelasan soal kejadian penganiayaan. Bahkan, Prabowo dan timnya sempat ingin mendatangi Kapolri Jenderal Tito Karnavian atas tuduhan itu.

Sebelumnya, Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Nanik S. Deyang, mengungkap isi pertemuan antara Ratna dengan Prabowo yang dilakukan pada Selasa (2/10/2018). Menurut Nanik, Ratna menyatakan dihajar tiga orang di sekitar bandara Bandung pada Jumat (21/9/2018).

“Mbak Ratna sebetulnya agak curiga saat tiba-tiba taksi dihentikan agak jauh dari keramaian. Nah, saat dua temannya yang dari luar negeri turun dan berjalan menuju bandara, Mbak Ratna ditarik tiga orang ke tempat gelap dan dihajar habis oleh tiga orang dan diinjak perutnya,” kata Nanik dalam keterangan tertulisnya.

Golkar Minta Usut Tuntas

Kabar Ratna Sarumpaet dianiaya orang tak dikenal juga membuat Ketua DPP Golkar Ace Hasan berkomentar. Menurut dia, pihaknya mendorong kepolisian agar mengusut tuntas kasus dugaan penganiayaan tersebut. Andai penganiyaan itu benar, kata dia, kekerasan tak bisa ditoleransi.

“Kami pasti akan mendukung langkah-langkah kepolisian jika memang terjadi kekerasan untuk diungkap setuntas-tuntasnya. Kami sangat mengutuk tindakan kekerasan kalau memang itu adalah tindakan kekerasan,” ujar Ace di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Untuk itu, Ace juga mendorong agar Ratna segera melaporkan kasus itu ke polisi agar tidak menimbulkan spekulasi publik. “Maka seharusnya memang dilaporkan kepada pihak kepolisian, sehingga spekulasi yang bermacam-macam itu tidak menimbulkan spekulasi di mana-mana, terutama spekulasi politik,” ujarnya.

Sebaliknya, jika kabar penganiayaan itu tidak benar, Ace menilai hal tersebut merupakan kebohongan publik yang luar biasa. Menurut dia, ada pihak yang sengaja memanfaatkan isu dugaan penganiayaan itu.

“Kami serahkan kepada pihak kepolisian untuk mengungkap. Tapi, kalau tidak benar berita tersebut, saya kira ini bentuk kebohongan publik yang luar biasa yang bisa menimbulkan spekulasi bermacam-bermacam dan itu kemudian ditanggapi besar-besaran oleh pihak, yang menurut saya, sengaja ingin mengapitalisasi kekerasan, padahal belum tentu itu kekerasan,” tuturnya.

Atraksi Playing Victim

Lain lagi reaksi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Bahkan, Hasto menilai ‘kasus penganiayaan’ Ratna Sarumpaet itu dipolitisasi dan mempertontonkan aksi ‘playing victim’.

“Apa yang dipertontonkan dengan memolitisasi kasus kekerasan secara sepihak tanpa adanya laporan ke polisi dan keterangan resmi dari rumah sakit, hanya menghadirkan atraksi playing victim yang tidak etis dan telah mengusik rasa kemanusiaan kita,” kata Hasto dalam keterangan tertulis, Rabu (3/10/2018).

Menurut Hasto, politisasi terhadap kasus ini sangat tidak etis lantaran kini Indonesia tengah berduka atas bencana di Sulawesi Tengah. Dia pun menyindir koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang ikut-ikutan sibuk mengurusi kasus dugaan penganiayaan Ratna.

“Tindakan tim Prabowo tersebut menunjukkan kepentingan politik lebih dominan daripada mendengarkan suara kemanusiaaan untuk membantu korban bencana alam,” ujarnya.

Hasto mendorong timses Prabowo-Sandi segera melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, jika memang ada kejadiannya. Hal ini agar publik mendapatkan penjelasan yang sebenar-benarnya.

“Kita ini negara hukum. Jika tim pemenangan Prabowo-Sandi betul-betul memiliki bukti otentik atas penganiayaan tersebut, segera laporkan polisi. Tempuh jalur hukum dan minta visum et repertum, sehingga publik mendapatkan kejelasan atas persoalan tersebut,” sebut Hasto.

Dia pun mengungkit sejumlah kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Hasto mengapresiasi andai pembelaan yang dilontarkan timses Prabowo berkaitan dengan kasus Tragedi Semanggi atau pembunuhan Marsinah di era Orde Baru.

“Pembelaan yang diungkap atas kasus Ratna Sarumpaet oleh tim Prabowo tersebut hanya akan positif apabila mereka juga membela lebih hebat lagi terhadap kasus Semanggi ataupun penculikan aktivis serta pembunuhan Marsinah di era rezim Soeharto,” tutur Hasto.

Hasto menambahkan, timses Prabowo-Sandi melakukan penggiringan opini publik dan terkesan menyalahkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam kasus ini. Dia menegaskan Jokowi-Ma’ruf Amin tak memiliki tradisi kekerasan.

“Berbagai penggiringan opini seolah terjadi kekerasan atas Ratna Sarumpaet dan kemudian menuduhkan hal itu kepada tanggung jawab Pak Jokowi sangat tidak elok, dan menyerang kecerdasan publik,” ucapnya.

“Rakyat tahu bahwa Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf tidak memiliki tradisi kekerasan sama sekali. Sementara yang di sana memiliki banyak pengalaman kelam terhadap berbagai bentuk tindak kekerasan,” imbuh Hasto. (Dbs/Sir)