DPR dan Presiden Sepakat Tolak Gugatan Kotak Kosong

oleh
Kuasa Hukum DPR RI yang juga Anggota Komisi III Anwar Rachman. (ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Kuasa Hukum DPR RI yang juga Anggota Komisi III Anwar Rachman menyatakan DPR RI bersama Presiden telah sepakat menolak permohonan uji materi terkait pengaturan kotak kosong dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Walikota, dan Bupati.

Menurut dia, apabila kontestan yang sudah kalah dengan kotak kosong harus mengulanginya lagi dengan skema yang sama, maka sama saja menghamburkan uang negara. Secara pribadi, dia sepakat dengan Presiden bahwa keuangan negara harus dijaga dari hal yang sia-sia. Itu sebabnya, dia menolak gugatan bahwa pasangan calon yang sudah kalah boleh ikut bertarung kembali di pemilihan selanjutnya.

“Ini harus dicarikan dulu lawannya. Jika melawan kotak kosong saja sudah kalah, kemudian masa harus mengulangi hal yang sama melawan kotak kosong, ya inikan sama saja membuang-buang uang negara. Itu yang kita inginkan, kalau mau carikan dulu lawannya,” tutur Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu usai memberikan pendapat DPR RI kepada Majelis Mahkamah Konstitusi (MK) di Gedung MK, Jakarta, Senin (1/4/2019) seperti dilansir dpr.go.id.

Sebelumnya, salah satu pasangan Pilkada Makassar, Munafri Arifuddin-Dewi Yustisia Iqbal yang terkena fenomena kotak kosong, mengajukan gugatan ke MK perihal keinginannya mengulang kembali melawan kotak kosong tersebut.

Menurut Anwar, sebaiknya harus dibuat solusi lain karena selain terlihat mubazir dalam pengelolaan keuangan negara, mereka juga akan membutuhkan dana segar lagi untuk berkampanye.

“Kalau kalah lagi gimana? Mau diulang berapa kali lagi? Nah maka itu harus dicarikan solusi yang lebih tepat lagi. Artinya jangan diulang lagi dengan kotak kosong. Merekapun sebenarnya masih diberi kesempatan untuk berpartisipasi lagi dalam kontestasi Pilkada selanjutnya dan sementara ini posisi tersebut jelas masih menggunakan Plt.,” tukas politisi dapil Jawa Timur VIII ini. (*)