Dibahas dalam Rapat, Tiga Bencana Ini Berpotensi Menimpa Bali

oleh
Rapat Koordinasi Finalisasi Rencana Operasi Penanganan Darurat Bencana di Ruang Rapat Sekda Kantor Gubernur Bali, Selasa (31/7/2018). (Ist
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Wijaya mengungkapkan, ada tiga ancaman bencana yang kemungkinan akan menimpa Bali, yakni ancaman gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami.

Wisnu Wijaya mengungkapkan hal itu dalam Rapat Koordinasi Finalisasi Rencana Operasi Penanganan Darurat Bencana di Ruang Rapat Sekda Kantor Gubernur Bali, Selasa (31/7/2018). Rapat ini digelar terkait pelaksanaan pertemuan tahunan IMF-WBG di Bali pada Oktober 2018.

Wisnu Wijaya menyatakan rapat tersebut akan membahas rencana operasi terhadap tiga ancaman bencana yang kemungkinan akan menimpa Bali, yakni ancaman gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami.

Hal terpenting dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana, menurut Wisnu, terletak pada penyebaran informasi dan komunikasi. Informasi yang diberikan petugas diharapkan bisa segera sampai ke masyarakat dan dipahami untuk kemudian dipadukan dengan penanganan oleh instansi terkait.

Sedangkan komunikasi diharapkan bisa dibangun satu sistem yang bisa dimanfaatkan oleh setiap orang berbasis berbagai bahasa negara tetangga. “Bukan malah sebaliknya, masing-masing membuat sistem. Dengan terbangunnya informasi dan komunikasi diharapkan dapat memberikan berita yang akurat, bukan hoaks seperti yang sering terjadi saat ini,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Wisnu Wijaya juga menyampaikan bencana meletusnya gunung berapi bisa dilihat dari sisi positif dengan menjadikannya sebagai salah satu objek wisata.

“Fenomena gunung meletus tidak melulu sebagai bencana. Mari geser pesepsi, lihat dari keindahannya. Ini bisa dijadikan tujuan wisata asalkan dilihat dari lokasi yang aman. Tentu akan menjadi daya tarik lain bagi wisatawan,” katanya sperti dilansir laman birohumas.baliprov.go.id.

Para pengungsi pun, menurut dia, bisa berbuat lebih banyak dengan menjual suvenir dan sebagainya. Sehingga, lebih bermartabat daripada menjadi potret objek penderitaan dan kemanusiaan. “Mereka (pengunsi) pun dapat penghasilan tambahan saat tertimpa bencana,”cetus Wisnu.

Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan kesiapan dalam penanggulangan bencana alam adalah kemampuan dan kesiagaan dari daerah yang mengalami bencana. Dengan terbangunnya kesiapsiagaan dan networking yang baik dan kuat, kata dia, akan membuat Bali siap menjadi penyelenggara setiap even-even internasional.

Selain itu, juga untuk mendukung citra pariwisata Bali di mata wisatawan.  “Hal ini sebagai bagian untuk memperkuat kesiapsiagaan kita dalam menghadapi bencana. Tidak hanya untuk menyambut even annual meeting IMF, tetapi untuk seterusnya. Kebetulan kita mendapat kesempatan even ini, mari kita jadikan momen untuk memulai dan terus memantapkan kesiapsiagaan kita, sehingga ada even apapun di Bali kita akan siap,” tegas Dewa Indra.

Lebih jauh, Dewa Indra mengharapkan kerja sama seluruh stakeholder dalam membangun kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Bali. “Semua harus bekerja sama, tidak ada yang berdiri sendiri. Semua instansi bersifat penting, sesuai perannya masing-masing, jadi harus bekerja sama. Jangan sampai bencana terjadi, kita tidak siap,” ujar Dewa Indra. (*)