Di Denpasar, Situs Cagar Budaya Rawan Hilang Akibat Pemugaran

oleh
Pemugaran salah satu situs cagar budaya di Kota Denpasar. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Dinas Kebudayaan Kota Denpasar gencar mendata situs cagar budaya yang ada di Kota Denpasar. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang cagar budaya menyebabkan banyaknya situs dan ritus di Denpasar yang hilang akibat renovasi.

Untuk menjaga kelestarian situs dan ritus cagar budaya, Disbud Kota Denpasar juga melakukan pengawasan dan pendampingan terhadap masyarakat yang hendak melakukan pemugaran. Seperti yang dilakukan di Pura Khayangan dan Dalem Penataran, Desa Taman Poh Manis, Desa Penatih Dangin Puri.

Dewa Gede Yudhu Basudewa, anggota Tim Cagar Budaya Disbud Kota Denpasar, mengatakan Disbud Kota Denpasar bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali untuk melakukan pengawasan pemugaran situs dan ritus di Kota Denpasar.

“Keinginan masyarakat yang tinggi dalam melaksanakan pemugaran harus juga diawasi agar tidak terjadi penghilangan situs dan ritus yang tergolong cagar budaya dan diduga cagar budaya,” katanya, Rabu (17/10/2018).

Dewa Basudewa menjelaskan, keberadaan cagar budaya telah diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 dan Perda No 12 Tahun 2015 tentang Cagar Budaya. Itu sebabnya, masyarakat harus melaksanakan amanat undang-undang dalam melaksanakan pemugaran situs yang dapat digolongkan sebagai cagar budaya.

“Yang dilaksanakan di Pura Khayangan dan Dalem Penataran Desa Taman Poh Manis ini bukan renovasi, melainkan pemugaran dengan metode restorasi,” katanya.

Dia menjelaskan, sistem restorasi mengedepankan pada aspek pelestarian dengan memanfaatkan kembali bahan-bahan yang dapat digunakan dan mengganti bahan yang tidak dapat digunakan. Sehingga, pola ukiran, ornamen, dan ciri khas gaya masih tetap bertahan sekalipun bangunan itu telah dipugar.

“Dari pemugaran dan restorasi di Kori Agung ini terdapat 30 persen bahan yang tidak dapat digunakan dan akan diganti dengan bahan sejenis. Namun, sisanya akan digunakan kembali. Sehingga, nilai sejarah dan ornamen sebagai ciri khas peradaban dapat dipertahankan,” jelasnya.

Mnurut dia, Kori Agung di Pura Khayangan dan Dalem Penataran Desa Taman Poh Manis, Desa Penatih Dangin Puri ini telah ada sejak abad ke-18 atau sekitar tahun 1.800-an. Sehingga, sesuai aturan undang-undang telah dapat dimasukkan ke dalam cagar budaya dan situs yang diduga cagar budaya, karena telah berusia lebih dari 50 tahun.

Sementara Kepala Disbud Kota Denpasar IGN Bagus Mataram mengatakan, terdapat empat syarat situs/ritus yang dapat digolongkan sebagai cagar budaya. Yakni, telah berusia lebih dari 50 tahun, memiliki corak gaya yang bertahan hingga 50 tahun, memiliki nilai penting bagi peradaban, agama, sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, serta merupakan ciri khas dan identitas bangsa.

“Dengan ini kami informasikan kepada masyarakat bahwa segala jenis situs/ritus dan bangunan yang memenuhi syarat teknis di atas telah dapat digolongkan sebagai cagar budaya dan diduga sebagai cagar budaya. Sehingga, kedepannya akan memiliki manfaat yang besar sebagai bukti peradaban dan perkembangn sejarah ilmu pengetahuan,” paparnya.

Dia berharap masyarakat Kota Denpasar yang hendak melaksanakan pemugaran pura, puri, patung, dan situs atau ritus lainnya agar berkordinasi dengan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar untuk mendapatkan pendampingan dan pengawasan agar tidak terjadi penghilangan situs cagar budaya dan diduga cagar budaya. (*)