Di Akhir Masa Jabatan, Gubernur Bali Beberkan Daftar Utangnya dalam Buku

oleh
Gubernur Bali Made Mangku Pastika merayakan hari ulang tahunnya yang ke-67 di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Jumat (22/6/2018). (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Gubernur Bali Made Mangku Pastika meluncurkan buku berjudul Utang. Peluncuran buku yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-67 itu berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Jumat (22/6/2018).

Pastika mengatakan buku berjudul Utang ini merupakan hasil buah pemikirannya di akhir masa jabatan sebagai Gubernur Bali. “Biasanya orang habis tugas menulis hal-hal yang berupa pujian dan penghargaan. Saya justru meminta dituliskan apa yang menjadi pikiran saya,” kata Pastika.

Pastika menuturkan latar belakangnya membuat buku berjudul Utang, karena selama ini merasa telah banyak berhutang dalam hidupnya. Hutang kepada Tuhan, negara, masyarakat bahkan dunia.

“Saya menikmati pendidikan gratis, mendapatkan pekerjaan, jabatan, fasilitas, dan semuanya itu adalah utang,” katanya.

Termasuk kesehatan, kata Pastika, membuatnya merasa berhutang kepada dokter, perawat, penemu teknologi kedokteran hingga orang yang menunjukkan jalan menuju kesehatan tersebut.

“Untuk kesehatan, saya berhutang pada dokter, perawat dan teknologi kedokteran. Saya mengganti enam pembuluh darah, pakai pacemaker. Ini membantu saya melanjutkan hidup. Tentu saja ini berkah Tuhan. Tapi, saya juga berhutang pada mereka yang menciptakan dan belum hutang kepada orangtua juga kepada Tuhan YME,” bebernya.

Itu sebabnya, Pastika berpesan bahwa semua yang kita nikmati adalah hutang. Dia berharap di sisa hidupnya bisa mencicil hutang-hutang tersebut dengan perbuatan-perbuatan baik.

Ida Pedanda Gede Putera Kekeran menilai buku tersebut merupakan bentuk kerendahan hati Gubernur Pastika serta bersyukur atas apa yang telah didapatkan selama ini.

Oleh sebab itu, dia melakukan berbagai upaya untuk membayar hutang-hutang itu. “Memberi adalah yang terbaik dalam hidup. Itu yang sudah dilakukan di Bali dalam bentuk yadnya. Kita harus menyosialisasikan ide ide seperti ini,” pesan Ida Pedanda.

Acara peluncuran buku tersebut dihadiri berbagai tokoh di Bali. Beberapa tokoh di antaranya memberikan ulasan singkat, seperti Prof. dr. Ketut Sukardika, Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, Prof. IB Wiyasa Putra, dan Prof. Dr. Wayan P. Windia. (*/Sir)