Dan Aku Memilih Jadi Belatung

oleh
Bahagia adalah milik mereka yang bisa menikmati apa yang tersaji dalam perjalanan hidupnya dengan penuh syukur
banner 300250

Orang bilang, bahagia itu sederhana. Tak perlu harus bergelimang harta atau ketika berada di puncak tahta. Bahagia adalah milik mereka yang bisa menikmati apa yang tersaji dalam perjalanan hidupnya dengan penuh syukur kepada Dewata. Tentu saja tidak semua orang setuju pada prinsip itu. Namun, aku salah seorang yang setuju—setidaknya itu kesimpulan dari setiap kejadian yang selalu kurasakan selama ini.

Bagiku, bahagia adalah ketika bangun tidur di pagi hari masih bisa menikmati secangkir kopi dan mendapati kehangatan sinar matahari. Matahari yang tak pernah lelah membagi segenap kehangatannya kepada semesta. Bahagia adalah ketika bisa menyaksikan bulir embun yang hinggap pada tiap helai kelopak bunga yang dicumbui kupu-kupu. Betapa cantik dan wanginya bunga yang dihinggapi kupu-kupu.

Namun, pagi itu tak seperti pagi-pagi biasanya. Kebahagiaanku sedikit terganggu. Bagaimana tidak, di saat mata ini tertuju pada indahnya kelopak bunga dan kupu-kupu di taman rumahku, tak sengaja kakiku menginjak bangkai binatang. Bangkai tikus yang sudah busuk dan dikerubungi banyak belatung! Sial, rusaklah seketika kebahagiaanku pagi itu. Hatiku merutuk. Benci pada pemandangan busuk yang menjijikkan itu. Betapa kontras pemandangan di bawah kakiku dan di hadapan mukaku—wangi bunga dengan puluhan kupu-kupu, sementara di bawah, ada bangkai busuk yang diliputi koloni belatung!

Purnama Wake

Namun, tunggu dulu. Bukankah bahagia adalah milik mereka yang bisa menikmati apa yang tersaji dalam perjalanan hidupnya dengan penuh syukur kepada Dewata? Lantas, apa yang harus kusyukuri dari bangkai busuk dan belatung yang mengotori kakiku ini? Cukup lama aku tercenung sebelum akhirnya kutemukan benang merah pesan yang terselip dari peristiwa kontras ini.

Sering kali mata kita tertipu oleh pemandangan yang tampak indah, padahal semu belaka. Sementara ada pemandangan yang tampaknya menjijikkan, tetapi sesungguhnya sangat berguna. Bunga dan kupu-pupu, sekilas memang tampak indah. Namun, jangan lupa, kupu-kupu datang hanya untuk mengambil sari pati bunga itu. Lalu ia pergi, meninggalkan bunga yang kemudian perlahan layu dan mati. Kupu-kupu tak akan datang untuk bunga layu dan tak memiliki sari.

Di sisi lain, belatung pada bangkai itu sekilas tampak begitu menjijikkan. Namun, sesungguhnya ia adalah pemberi kehidupan baru bagi bunga dan kupu-kupu itu. Belatung adalah pengurai masalah. Karena belatunglah, bangkai busuk yang tak bermanfaat itu bisa terurai, menjadi pupuk bagi tanah, tempat bunga-bunga itu tumbuh dan menghasilkan sari madu.

Maka berperanlah seperti belatung dalam kehidupanmu—menjadi sumber solusi bagi masalah di sekitarmu. Boleh jadi engkau berada pada lapis paling bawah kehidupan sehingga peranmu tak diperhitungkan, atau bahkan tak disukai. Tapi engkau adalah solusi. Maka, doaku hari ini, esok dan seterusnya, aku ingin menjadi belatung, yang bisa mengurai kebusukan-kebusukan dalam kehidupan ini.

—Purnama Wake