Cina: Pameran Museum Rasis Tunjukan Orang Afrika Mirip Hewan

oleh
banner 300250

Cina,suarabali.com – Kurangnya rasa sensitivitas rasial terjadi disebuah museum di China telah menggelar pameran yang menunjukkan bentuk orang kulit hitam Afrika disamakan dengan binatang buas.

Nigeria Edward Duke memposting di Instagram sebuah video yang dia shoot saat mengunjungi museum di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, Cina Tengah.

Di galeri digantung foto binatang liar, dibingkai di samping orang-orang kulit hitam Afrika yang menampilkan ekspresi wajah serupa.

Foto seekor singa yang tampak menggeram di foto itu dibingkai di samping foto seorang pria dengan ekspresi yang sama, seekor simpanse yang mulutnya terbuka lebar terbingkai di samping anak kecil, dan sejumlah foto binatang lainnya juga dibingkai, berdampingan dengan manusia yang memakai ungkapan serupa.

Menurut Punch, Duke posting itu mendapat sambutan beragam. Banyak komentar mengutuk sifat rasis dari pameran tersebut, sementara yang lain menyuarakan anggapan bahwa orang Asia bisa “sangat tidak perduli tentang ras kulit hitam.”

Ini bukan kali pertama minggu ini Cina dihebohkan dengan isu rasisme.

Menurut Shanghaiist, aplikasi media sosial favorit China, WeChat, meminta maaf pada hari Rabu ketika algoritma terjemahannya menemukan terjemahan ‘heilaowai’, yang berarti “orang asing hitam”, ke kata N-word.

Cina memiliki masalah dengan rasisme terhadap orang kulit hitam, orang sering terkejut dengan rasisme yang ditanggapi santai di jalan hampir setiap hari.

Ada ketakutan irasional yang berlaku umum bahwa ada “invasi hitam” yang diyakini orang Afrika akan masuk membawa narkoba, kejahatan dan pernikahan antar ras.

Pada bulan Maret, politisi Pan Qinglin mengatakan kepada media lokal, “Orang Afrika membawa banyak risiko keamanan.” Dia mendesak pemerintah untuk “secara ketat mengendalikan orang-orang Afrika yang tinggal di Guangdong dan tempat-tempat lain.”

Tanggapan terhadap komentar Pan di media sosial sangat mendukung, menurut Quartz. Gagasan tentang “invasi hitam” tidak ditemukan dalam kenyataan apapun.

Sementara jumlah orang Afrika yang terus berkembang bekerja dan belajar di Cina – mitra dagang terbesar negara Cina benua Afrika – memperkirakan jumlah orang Afrika sub-Sahara di Guangzhou (dijuluki “Kota Coklat” dalam bahasa China) sekitar 150.000 penduduk, menurut statistik 2014 pemerintah Guangzhou memiliki total populasi 14 juta. (Hsg)