Bupati Gianyar Ingin Sulap TPA Temesi Jadi Objek Wisata

oleh
Bupati Gianyar Made Mahayastra berkomitmen untuk menyulap area TPA sampah di Dusun Temesi, Desa Tulikup, menjadi tempat rekreasi sekaligus area edukasi tentang alam dan lingkungan yang bersih dan sehat. (Ist)
banner 300250

Gianyar, suarabali.com – Masalah penanganan sampah menjadi perhatian serius Bupati Gianyar Made Mahayastra. Terbukti, dia berkomitmen untuk menyulap area tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Dusun Temesi, Desa Tulikup, menjadi tempat rekreasi sekaligus area edukasi tentang alam dan lingkungan yang bersih dan sehat.

Untuk menunjukkan komitmen itu, Mahayastra sudah sering mengunjungi TPA Temesi. Dia juga kerap memberi arahan kepada bawahannya, terutama Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Gianyar yang dikepalai Wayan Kujus Pawitra.

Sebelum persoalan sampah menjadi masalah serius, Mahayastra ingin menjadikan TPA Temesi berbeda dengan TPA pada umumnya yang terkesan bau dan kumuh. Dia merancang penataan area TPA Temesi nantinya diwarnai pohon-pohon yang rindang.

“Nantinya akan ada kantin untuk sopir, ada kafetaria untuk pengunjung, ada wahana edukasi, ada gasebo, ada bengkel cuci sehingga truk yang masuk bawa sampah keluarnya bersih,” tutur Mahayastra.

Dia optimistis warga yang datang ke TPA Temesi dapat merasakan suasana berbeda dengan TPA pada umumnya. “Sebagai lagkah awal, Kepala DLH, saya instruksikan untuk segera melakukan penataan sampah. Kalau perlu, operator alat berat yang ada agar berkerja lembur. Dalam tiga bulan ini, sebagi langkah awal sudah dapat melayani sampah dari desa-desa,” ungkapnya.

Namun, untuk jangka penjang,  dia memahami pertumbuhan dan perkembangan pembangunan di Gianyar membutuhkan pengolahan sampah secara modern. Sebab, tidak hanya volume sampah yang terus bertambah, tetapi keragaman jenis hingga karakter sampah juga meningkat.

Untuk itu, kata Mahayastra, pengolahan sampah dengan sistem kontrol lanfil yang masih terkesan kurang nyaman saat ini dinilai tidak zamanya lagi. “Kami ingin mengubah paradigma ini dan menjadikan TPA sebagai ruang publik yang dapat dijadikan tempat hiburan sekaligus pengetahuan tentang pentingnya pengelolaan sampah bagi masyarakat,” harapnya.

Itu sebabnya, Mahayastra langsung menginstruksi jajarannya untuk melakukan penataan awal sebagai langkah persiapan. Tidak tangung-tanggung, dia menargetkan pembangunan pengelolaan sampah model TPA Temesi ini sudah mulai digarap pada tahun 2020 dan paling lambat tahun 2021 sudah terwujud.

Bupati mencontohkan, pengelolaan sampah dengan sistem sanitary landfill, yakni dengan memanfaatkan lahan urug yang telah memperhatikan aspek sanitasi lingkungan. Sampah dihamparkan lalu dipadatkan, kemudian dilapisi dengan tanah untuk mencegah berkembangnya vektor penyakit, penyebaran debu, dan sampah ringan yang dapat mencemari lingkungan sekitarnya.

“Penataan TPA Temsi tetap dilengkapi unit pemilahan dan unit pengomposan. nantinya, kita harapkan sampah yang masuk ke TPA makin sedikit. Pemilahan sampah juga tetap harus dilakukan mulai dari sumbernya, yaitu di rumah tangga dan di desa, agar sampah tidak menumpuk di TPA. Sehingga, kebutuhan lahan TPA makin kecil dengan pengepresan tanah, pemilahan, juga pengomposan,” paparnya. (*)