Buntut Penembakan di Nduga, IPW Minta Kapolda Papua Dicopot

oleh
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane. (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Insiden penembakan 31 pekerja konstruksi jembatan di Yigi, Nduga, Papua, dan penyerangan Pos Yonif 756/Yalet yang menewaskan satu prajurit TNI jadi bukti lemahnya koordinasi Polri dengan pemerintah untuk memetakan situasi dan kondisi keamanan daerah tersebut.

“Sangat lemah koordinasinya. Presiden sudah mengatakan Nduga adalah daerah merah. Tapi Kadiv Humas Polri, Irjen Pol M Iqbal justru bilang Nduga daerah aman. Ini bikin masyarakat jadi bingung,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane dalam siaran persnya yang diterima suarabali.com, Rabu (5/12/2018).

“Atas ketidaksinkronan informasi ini Presiden Joko Widodo harus minta maaf ke masyarakat sekaligus berjanji untuk menjamin keamanan pekerja yang mengerjakan proyek Trans Papua. IPW juga mendesak Presiden segera mencopot Irjen Pol Martuani Sormin dari jabatannya sebagai Kapolda Papua,” sambungnya lagi.

Dikatakan Neta, desakan pencopotan Irjen Pol Martuani Sormin sebagai Kapolda Papua dilatarbelakangi penilaian IPW yang menganggapnya tidak mampu bekerja optimal untuk menjaga keamanan proyek strategis nasional tersebut.

“Insiden pembantaian 31 pekerja dan penyerangan Pos Yonif 756/Yalet yang menewaskan satu prajurit TNI di Distrik Digi jadi kado hitam sekaligus catatan sejarah akhir tahun yang kelam buat Kapolda Papua, Irjen Pol Martuani. Belum pernah terjadi sebelumnya insiden seperti ini di era kapolda-kapolda terdahulu,” tukasnya lagi.

Polda Papua, sambung Neta, juga jadi pihak yang paling bertanggungjawab dalam hal menjaga keamanan masyarakat di provinsi paling timur Indonesia itu. Terlebih fakta bicara, di bawah kepemimpinan Irjen Pol Martuani Sormin itulah pembantaian dan penyerangan tiga hari berturut-turut terjadi. Kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) seperti dapat ruang bebas untuk melakukan aksi mematikan tersebut.

“Sabtu dan Minggu KKSB membantai 31 pekerja PT Astika Karya. Hari Senin menyerang Pos Yonif 756/Yalet dan menewaskan satu prajurit TNI. Di mana intelijen Polda hingga kelompok itu bisa bebas selama tiga hari melakukan aksi serangan mematikan?” serunya keheranan. (*)