Biosafety dan Biosecurity Dibahas dalam Pertemuan di Nusa Dua Bali

oleh
Pertemuan ASEAN Influenza Laboratory Surveillance di Nusa Dua, Bali pada 16-18 Juli 2019. (Ist)
banner 300250

Nusa Dua, suarabali.com – Kementerian Kesehatan mengadakan Pertemuan ASEAN Influenza Laboratory Surveillance di Nusa Dua, Bali pada 16-18 Juli 2019. Secara paralel juga diadakan Pertemuan ASEAN Regional Capacity Strengthening on Biorisk Management yang membahas dua isu strategis keamanan kesehatan global, yaitu biosafety dan biosecurity.

Kedua pertemuan tersebut berhasil menyepakati rekomendasi untuk dasar perumusan kegiatan dalam program kerjasama kesehatan ASEAN lima tahun ke depan (2021-2025).

Rekomendasi berisi kesepakatan ASEAN untuk bekerja sama dalam hal penguatan kapasitas laboratorium, di antaranya melalui kegiatan saling bertukar informasi, mobilisasi tenaga ahli untuk memberikan dukungan teknis, pelatihan dan simulasi, penguatan Emergency Operation Centre (EOC) Network, pengembangan jejaring laboratorium kesehatan manusia dan hewan, manajemen risiko biosafety dan biosecurity, serta partnership.

Sementara di tingkat nasional, pertemuan merekomendasikan pengembangan regulasi dan penyusunan rencana aksi nasional terkait manajemen biorisk. Pertemuan ini merupakan salah satu kegiatan yang dipimpin oleh Indonesia, sesuai mandat dokumen Rencana Kerja ASEAN Health Cluster 2: ‘Responding to All Hazard and Emerging Threats’.

Pertemuan tersebut dibuka oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, dr. Siswanto, MHP, DTM. Pada kesempatan tersebut, Siswanto menegaskan bahwa sebagai negara anggota WHO dan komunitas masyarakat global, negara anggota ASEAN harus memiliki kepedulian dalam mencegah penyebaran penyakit menular melalui peningkatan kapasitas pengawasan dan keselamatan serta keamanan laboratorium.

Lebih lanjut, Siswanto menambahkan, tidak ada satu negara pun yang dapat mencapai Keamanan Kesehatan Global dengan sendirinya. Sebagai salah satu kapasitas inti International Health Regulation (IHR), laboratorium berperan utama dalam semua proses utama pendeteksian, pemeriksaan, respons, peringatan, dan pemantauan kejadian yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Laboratorium juga merupakan fasilitas pendukung utama program kesehatan mulai dari pengawasan, diagnosa, pencegahan, pengobatan, penelitian dan promosi kesehatan.

Kedua pertemuan tersebut dihadiri lebih dari 120 orang, terdiri dari perwakilan kelompok kluster 2 kesehatan yang menangani program pengelolaan laboratorium dan program pencegahan dan pengendalian penyakit menular serta perwakilan National Influenza Center negara-negara anggota ASEAN. Pertemuan juga dihadiri oleh Direktur WHO Collaborating Center Melbourne, Direktur International Federation of Biosafety Associations (IFBA), Sekretariat ASEAN, WHO SEARO, WHO Indonesia, dan FAO.

Selain diskusi dan pelatihan, peserta melakukan kunjungan ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Bali dan Laboratorium Kesehatan di Universitas Udayana untuk mempraktekan Standar Operasional Prosedur (SOP) penilaian manajemen biorisk.

Hasil Pertemuan ini akan dilaporkan pada rangkaian Rapat Kluster 2 ASEAN yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan September 2019 di Myanmar. (*)