Bermain Jadi Trauma Healing bagi Anak-anak Korban Gempa Lombok

oleh
Anak-anak korban terdampak gempa di Nusa Tenggara Barat. (Ist)
banner 300250

Lombok, suarabali.com – Gempa yang berulangkali menggoyang Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyisakan banyak trauma pada masyarakat Lombok, terutama anak-anak. Untuk mencegah trauma yang dapat berujung pada masalah kesehatan, perlu dilakukan trauma healing.

Bermain menjadi salah satu cara trauma healing yang bisa digunakan untuk mencegah anak-anak dari trauma berkepanjangan. Seperti yang dilakukan oleh sejumlah relawan di Posko Bencana Kabupaten Lombok Utara.

Mereka mengajak anak-anak bernyanyi, melakukan permainan, dan bercerita. Trauma healing penting dilakukan untuk menjaga mental anak tetap stabil.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek mengatakan kejadian bencana seperti gempa bumi rentan menimbulkan trauma, bahkan gangguan mental bagi orangtua maupun anak-anak. “Gangguan mental rentan terjadi, jadi perlu trauma healing,” kata Nila, Rabu (8/8/2018).

Trauma healing sifatnya mencegah trauma berkepanjangan yang berujung gangguan mental. Itu sebabnya, trauma healing dilakukan setiap hari secara rutin.

Jika dibiarkan, dampak psikologisnya anak bisa menyendiri, sedih, dan sulit tidur. Trauma healing bisa dilakukan oleh siapa saja, baik di antara anggota keluarga atau antar tetangga.

Cara yang paling sederhana adalah dengan mengajak anak bermain atau membiarkan anak bermain dengan pengawasan orangtua. (*)