Begini Sejarah Asal Mula Tari Legong yang Terkenal di Bali

oleh
Tari Legong. (Ist)
banner 300250

Gianyar, suarabali.com – Ada yang menarik dalam perayaan HUT ke-247 Kota Gianyar pada Senin (6/4/2018). Parade Gong Kebyar yang selalu menjadi primadona setiap perhelatan hari jadi Gianyar ini menampilkan Sekaa Gong Dwija Cita Langu, Karang Taruna Putra Persada Desa Sukawati. Penonton yang memadati lapangan Astina Raya Gianyar pun dibuat terpukau.

Sekehe Gong yang menjadi Duta Gianyar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2018 ini menampilkan empat garapan terbarunya. Sekaa Gong Dwija Cita Langu Karang Taruna Putra Persada Desa Sukawati menampilkan Tabuh Pat Lelambatan (Wangsul), Tari Kebyar Duduk, serta tari kreasi baru Witning Legong, dan Krodha Angajuala.

Tari kreasi baru Witning Legong yang ditata oleh I Nyoman Cerita mengisahkan munculnya pertama kali Tari Legong di Bali bersumber dari mimpi Raja Sukawati yang bernama Dewa Agung Made Karna.

Sebagai tokoh bangsawan dan spiritual, ketika sedang bertapa beliau bermimpi didatangi dua bidadari yang cantik dan agung. Bidadri tersebut dijadikan inspirasi dalam menciptakan Tari Legong yang bersifat magis religius yang bernama Sang Hyang Legong Topeng  yang ada di Pura Jogan Agung, Desa Ketewel, Sukawati, Gianyar.

Dalam perkembangan selanjutnya, atas kegeniusan dan dedikasi Sang Raja Sukawati, diperintahkan Anak Agung Perit untuk melestarikan dan mengembangkan Tari Legong tersebut ke dalam bentuk seni tontonan yang lebih artistik dan filosopis.

Dan, sampai sekarang Tari Legong tetap sebagai sumber inspirasi dalam perkembangan tari-tari legong, baik yang ada di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Pertunjukan Sekaa Gong Dwija Cita Langu Karang Taruna Putra Persada Desa Sukawati membius penonton yang memadati Lapangan Astina Gianyar.

Selain menampilkan Tari Legong  Witning, Sekaa Gong Dwija Cita Langu Karang Taruna Putra Persada Desa Sukawati juga menampilkan garapan Wayan Gede Aditya Pratita sebagai penata tari serta Ketut Adiasa dan Ketut Budastra sebagai penata tabuh bertajuk ‘Krodha Angajuala’.

Tari Krodha Angajuala menceritakan kisah perang Baratha Yudha setelah kematian Sang Gatotkaca. Diceritakan, Bima terbakar api amarah karena terus teringat kelakuan Dursasana manakala dia meyeret dan dan menjamah rambut Drupadi tatkala kekalahan Sang Pandawa bermain dadu melawan Sang Korawa. Bima teringat pada sumpah Dewi Drupadi yang tidak memakai mahkota sebelum dapat darah Dursasana dan meminum darahnya.

Diceritakan, pada peperangan hari ke-14 dimana sang Karna menjadi Senopati Korawa, Bima tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mewujudkan sumpahnya.

Parada Gong Kebyar Remaja Nyatur desa ini juga menampilkan Tabuh Kreasi berjudul ‘Loloan’ yang dibawakan oleh Sanggar Manik Suari Banjar Buda Ireng Sukawati di stage utara. Tak kalah meriah, Sekaa Gong Adhi Putra Kencana Banjar Mas Kawan Ubud juga menampilkan Tari Topeng Tenget di stage timur.

Komunitas Krespo Art di stage selatan juga tak mau kalah untuk merebut pandangan penonton dengan menampilkan Tari Kebyar Duduk Goak Macok. (*/Sir)