Banyak Hotel dan Villa di Bali Terima Pembatalan Kunjungan ke Bali

oleh
Suasana salah satu hotel di Bali. (Foto Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Apa pun alasan dan penjelasan kepada wisatawan manca negara tentang kondisi Gunung Agung, dampaknya tetap saja dirasakan oleh sektor pariwisata Bali. Selama ini sudah ada upaya dari pelaku pariwisata Bali untuk menjelaskan kepada pasar pariwisata di berbagai negara di dunia.

Pelaku pariwisata selama ini sudah menjelaskan kepada berbagai negara bahwa Bali itu tetap aman untuk dikunjungi karena destinasi Bali itu lokasinya jauh dari Gunung Agung sekitar 70 sampai 80 kilometer. Hanya 2 persen destinasi di Bali yang terdampak ancaman letusan Gunung Agung.

“Penjelasan untuk meyakinkan pariwisata Bali bahwa destinasi Bali aman dari ancaman letusan Gunung Agung itu memang sudah dilakukan. Namun pembatalan kunjungan tetap ada, karena tidak semua negara percaya dengan penjelasan itu. Buktinya, tamu di beberapa hotel di Bali untuk liburan akhir tahun ada batal dan mengalihkan kunjungannya ke beberapa negara lainnya di Asia,” ujar Jeny Arke, Manajer Villa Canggu Bali, Minggu (3/12).

Menurutnya, pemerintah dan asosiasi pariwisata di tingkat elit tidak mengetahui bahwa banyak hotel dan vila di Bali yang menerima pembatalan kunjungan pariwisata terutama untuk periode Desember 2017 sampai Januari 2018. Ia mengaku, di villanya sendiri sudah ada pembatalan kunjungan liburan akhir tahun sebanyak 6 group. Tamu memilih liburan ke Thailand, Malaysia dan Singapura.

Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah terjadinya pembatalan penerbangan ke Bali. Ia mengaku, ada sekitar 10 penerbangan dari China dan Hongkong yang batal ke Bali. Hal yang sama juga terjadi dengan penerbangan langsung dari beberapa negara di Asia dan Australia yang langsung ke Bali.

“Termasuk ada beberapa maskapai yang menolak terbang di malam hari. Itu juga menjadi informasi penting karena berita itu tersebar ke seluruh dunia. Artinya, mereka beranggapan bahwa terbang malam hari dari dan ke Bali itu memang belum aman. Artinya, ancaman abu vulkanik itu masih ada,” ujarnya.

Informasi ini menjadi penting karena banyak penerbangan langsung dari beberapa negara yang menuju Bali maupun sebaliknya memang terjadwal kebanyakan di malam hari.

Informasi lain yang menjadi sangat penting adalah bahwa ada 10 negara di dunia yang merilis ulang travel advisory akibat adanya semburan abu vulkanik Gunung Agung. Sekalipun isi secara keseluruhan travel advisory itu hanya untuk menasihati warganya agar menjauhi Gunung Agung, namun informasi ini penting bagi dunia pariwisata karena bisa jadi banyak warganya yang ingin ke Bali akhirnya mengurunkan niatnya untuk datang ke Bali.

Ketua PHRI Bali Cokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengakui jika Gunung Agung memiliki dampak bagi pariwisata.

“Betul bahwa dampak itu tidak dirasakan sekarang tetapi akan dirasakan dua sampai tiga bulan ke depan. Diprediksi akan terjadi penurunan sampai 10 persen atau lebih. Ini konsukuensi yang harus diterima,” ujarnya. Namun ia tetap optimis, pasca peristiwa Gunung Agung pariwisata Bali akan kembali normal sebagaimana biasanya. (Ade/Tjg)