Bamsoet: Hentikan Kenaikan Harga Beras Jika Tak Ingin Isu Itu Digoreng Oposisi

oleh
etua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet). (Ist)
banner 300250

Jakarta, suarabali.com – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) meminta pemerintah dan Bulog segera menghentikan kenaikan harga beras. Jika tidak, kata Bamsoet, isu tentang kenaikan harga kebutuhan pokok akan ‘digoreng’ oleh kekuatan oposisi untuk merusak kredibilitas pemerintah.

“Bagaimana pun di tahun politik 2019 mendatang, isu tentang harga kebutuhan pokok bisa menjadi sangat sensitif. Ketika terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok, apalagi beras, kekuatan oposisi akan menggoreng isu kenaikan harga untuk merusak kredibilitas pemerintah,” ujar Bamsoet seperti dirilis dpr.go.id, Senin (12/11/2018).

Menurut dia, faktor tersebut patut digarisbawahi oleh tim ekonomi di Kabinet Kerja, mengingat para pengkritik pemerintah sejak beberapa bulan belakangan ini konsisten menyoal harga kebutuhan pokok, serta mengeksploitasi keluh kesah ibu rumah tangga tentang harga kebutuhan pokok.

Bamsoet menekankan agar laju kenaikan harga beras medium harus segera dihentikan. Pasalnya, dengan kenaikan harga tersebut, masyarakat kelas menengah bawah dirugikan.

Mendekati akhir tahun 2018, kata Bamsoet, pemerintah dan Bulog perlu bekerja lebih keras agar komoditas beras tidak bermasalah. Aspek kecukupan atau stok harus dijaga, sementara harga beras harus diupayakan terkendali atau stabil.

Bamsoet menyarankan kepada regulator seperti tim ekonomi Kabinet Kerja bersama Badan Urusan Logistik (Bulog) harus segera memastikan kecukupan volume beras medium sesuai permintaan pasar.

“Kelangkaan dan kenaikan harga beras medium itulah yang harus segera diatasi oleh tim ekonomi Kabinet Kerja dan Bulog. Masalah ini harus disikapi dengan sangat serius,” tandas Bamsoet seperti dirilis dpr.go.id, Senin (12/11/2018).

Bamsoet menyarankan agar ketersediaan beras harus segera dicukupi dan kenaikan harganya harus dihentikan agar kelompok masyarakat menengah-bawah tidak dirugikan. Dia beralasan, 70 persen dari konsumsi masyarakat kelas menengah-bawah adalah beras medium.

Legislator Partai Golkar itu memaparkan, untuk mengoreksi situasi pasar beras seperti itu, DPR berharap pemerintah bersama Bulog segera mengguyur pasar dengan memanfaatkan stok beras medium di gudang Bulog yang saat ini mencapai 2,7 juta ton.

Memasuki pekan kedua November 2018, terjadi kenaikan harga beras medium akibat turunnya volume pasokan ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Tidak membantah, Menteri Pertanian Amran Sulaiman membenarkan kenaikan harga beras medium disebabkan anomali penggilingan beras medium menjadi premium.

“Karena anomali itu, terjadi kelangkaan beras medium di pasar. Bahkan, para pedagang beras juga mengkonfirmasi bahwa persentase terbesar dari stok di pasar saat ini adalah beras premium yang biasanya dikonsumsi kalangan menengah atas,” tandas legislator dapil Jawa Tengah VII itu.

Akibatnya, pada beberapa pasar tradisional, dilaporkan bahwa harga beras medium sudah mencapai Rp 11.000 per kilogram. Padahal, per September 2018, harga beras medium masih di kisaran Rp 9.310 per kilogram. (*)