Balinese Masters Gelar Pameran Seni di AB.BC Building

oleh
Ilustrasi. (Ist)
banner 300250

Badung, suarabali.com – Balinese Masters akan menggelar pameran bertajuk ‘Balinese Masters: Aesthetic DNA Trajectories of Balinese Visual Art’ di AB.BC (Art Bali – Bali Collection) Building, Jalan Kawasan Nusa Dua Resort, Kuta Selatan, Badung. Pameran ini akan dibuka pada Sabtu (25/5/2019) pukul 17.00 WITA.

Army, panitia pameran, mengatakan even pameran tersebut akan berlangsung hingga 14 Juli 2019. Army menjelaskan, pameran ‘Balinese Masters: Aesthetic DNA Trajectories of Balinese Visual Art’ merupakan penyajian karya-karya seni instalasi, patung, lukisan, gambar, dan objek dari 34 seniman dan komunitas berdarah Bali.

Persembahan ini membahas jalan dan perkembangan estetika seni rupa Bali – tumbuh dari perupa-perupa Bali yang berada di Pulau Dewata maupun di luarnya – yang terpadukan antara ekplorasi seni dan estetika dengan nilai-nilai budaya dan kepercayaan Bali serta pengaruh lainnya di luar lingkup tersebut.

“Pameran ini mengajak kita untuk kembali menelaah alur dan keberadaan seni rupa Bali dalam sejarah perkembangannya,” katanya.

Rerajahan, gambar, seni lukis, pahat dan arsitektur Bali mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah perkembangan seni rupa di Indonesia. Seni lukis Bali muncul, tumbuh, dan tetap lestari karena telah menjadi bagian dari berbagai ritual keagamaan dan keseharian masyarakat sejak berabad–abad lalu dan kemudian berinteraksi aspek-aspek  perubahan zaman serta budaya dari luar Bali yang dikembangkan secara kolektif maupun perorangan.

Hal demikianlah yang kemudian memunculkan bentuk–bentuk seni rupa yang khas, baik yang masih mewarisi bentuk estetik klasik masa lampau maupun dengan semangat yang lebih modern dan kontemporer, maupun berbagai perpaduannya.

Bentuk-bentuk estetik tersebut tetap hadir lestari dan mengalami evolusi di dalam masyarakat, sehingga kita bisa melihat berbagai spektrum karya–karya seni rupa seniman Bali. Dengan kepekaan atau sensibilitas dan craftsmanship yang kuat dalam memahami bentuk dan material, serta merasakan dan mencerap berbagai enerji alam dan lingkungannya.

“Melalui pameran ini, kita bisa menyoroti berbagai pencapaian estetik dan hasil artistik para pelaku seni berdarah Bali, baik yang tinggal di Bali maupun di luar Bali. Dalam bentuk seni gambar, lukisan, pahatan patung kayu, logam maupun batu, hingga garapan instalasi berbagai materi. Dengan berbagai kecenderungan  bentuk estetik dan ragam corak, mulai dari simbolisme, realisme, surealistik, mistisisme, ekspresionistik, dekorativisime , formalisme, abstraksi hingga fotorealistik maupun berbagai paduannya,” paparnya.

Dengan tema-tema yang beragam, antara lain ritual keagamaan maupun epos cerita pewayangan maupun mistisisme simbolik seperti karya Ketut Budiana. Suasana keseharian, seperti lewat lukisan Kedol Subrata, maupun tema–tema sosial seperti karya Made Budi, Wayan Bendi hingga Mangu Putra.

Yang intim serta erotis seperti karya-karya IGAK Murniasih dan Dewa Putu Mokoh. Pendekatan personal – individual yang akademik, seperti kecenderungan abstraksi-ekspresionistik anggota Sanggar Dewata Indonesia seperti Nyoman Gunarsa, Wayan Sika dan Wayan Kardja.

Hingga yang mengarah kepada pengolahan analitis sisi-sisi formal rupa seperti karya I Nyoman Tusan, Gede Mahendra Yasa atau karya instalasi layang-layang dari Kadek Armika.

Pameran tersebut mencoba melihat dan mempertimbangkan kembali praktek artistik sebagai penelusuran (seni) rupa atau visual dalam kehidupan masyarakat dan budaya di Bali dengan melepaskan diri dari pandangan yang membatasi konteks praktek keseniannya, seperti berbagai kategorisasi, paradigma, teori sejarah dan sekat-sekat lainnya.

Untuk memperkaya khazanah perkembangan sejarah seni rupa di Indonesia dan menempatkannya dalam perkembangan seni rupa global.

Pameran ‘Balinese Masters: Aesthetic DNA Trajectories of Balinese Visual Art’ ini dikuratori oleh Rifky Effendy, berkolaborasi dengan para narasumber penting seperti Jean Couteau, Agung Rai, Hardiman Adiwinata, Elmondo Zanolini, I Made Aswino Aji , Satya Cipta, Wayan Sujana Suklu, dan Soemantri Widagdo.

Pameran yang diselenggarakan oleh Heri Pemad Management (HPM) akan mempersembahkan berbagai karya seni gambar, lukis, patung, objek dan instalasi yang berasal dari 34 seniman perorangan dan kelompok.

Para partisipan yang berasal dari Bali ini adalah Agung Mangu Putra, Dewa Putu Mokoh, Dewa Ratayoga, Gede Mahendra Yasa, I Made Budi, I Made Djirna, I Made Sumadiyasa, I Nyoman Tusan, I Wayan Sika, Ida Bagus Putu Purwa, Ida Bagus Rai, IGAK Murniasih, Kadek Armika, Kedol Subrata, Ketut Budiana, Ketut Moniarta, Komunitas Patung Padas Batubelah (KPPB).

Selain itu, Komunitas Lukis Kaca Batubelah (KLKB), Made Budhiana, Made Griyawan, Made Wianta, Mahendra Mangku, Mangku Mura, Mangku Muriati, Mangku Nyoman Kondra, Nyoman Erawan, Nyoman Gunarsa, Nyoman Nuarta, Putu Sutawijaya, Putu Wirantawan, Wayan Bendi, Wayan Karja, Wayan Suklu, dan I Ketut Muja. (Sir)