Balai KSDA Bali Lepasliarkan 21 Ekor Penyu Hijau

oleh
Pelepasliaran 27 ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) di pantai areal Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih, Kamis (7/6/2018). (Ist)
banner 300250

Jembrana, suarabali.com – Balai KSDA Bali melepas-liarkan (rilis) 27 ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) di pantai areal Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih, Kamis (7/6/2018). Satwa tersebut hasil Operasi Pengamanan TSL Reskrim Jembrana dari rumah penduduk di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

Balai KSDA Bali menyatakan ada tiga aspek yang perlu dipadu-serasikan dalam kegiatan pelepasliaran tersebut, yakni dari sisi konservasi, penegakan hukum, dan publikasi. Ini yang  menyebabkan kegiatan release bisa dilaksanakan dua hari pasca temuan.

Dari aspek konservasi, lebih baik cepat dilaksanakan release setelah terlebih dulu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan juga melibatkan BPSPL Denpasar, FKH Universitas Udayana, dan sejumlah relawan dari Indonesia Aquatic Megafauna (IAM) Flying Vet yang merupakan koalisi dokter hewan penanganan satwa laut terdampar.

Hasil pemeriksaan kesehatan disimpulkan bahwa penyu-penyu tersebut terdiri dari 2 ekor jantan dan 25 ekor betina. Rentang panjang lengkung karapas (CCL) yakni 55-102 cm dan lebar lengkung karapas (CCW) yakni 51-90,5 cm. Temuan abnormal yang didapat dari hasil pemeriksaan fisik awal di antaranya luka tusuk pada flipper depan seluruh penyu akibat ikatan benang nylon monofilamen 2-4 mm.

Abrasi pada kulit yang sifatnya ringan pada 8 ekor penyu.  Prolapsus rektum pada 6 ekor penyu, yang mungkin diakibatkan penempatan penyu di luar air dalam waktu lama atau obstruksi usus. Empat ekor terdapat masa solid eksternal (kemungkinan eksternal papiloma) semacam tumor yang letaknya pada mata, flipper, dan ventral kloaka.

Sebanyak 23 ekor penyu dalam keadaan sehat dengan tingkat dehridrasi yang relatif ringan-sedang dan dapat direkomendasikan untuk di-release. Namun, dalam rangka keperluan penegakan hukum, duaekor disisihkan sebagai barang bukti. Sedangkan 21 ekor bisa dilepas liarkan.

Terhadap penyu yang diindikasikan terdapat tumor di tubuhnya, secepatnya akan dilaksanakan operasi medis oleh BKSDA Bali bekerja sama  dengan FKH Universitas Udayana dan TCEC.

Sebelum dilepas-liarkan, Balai KSDA Bali dibantu relawan Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih memasang tagging sebagai identitas penyu-penyu tersebut. Tujuannya, sebagai alat penanda sekaligus kontrol terhadap jelajah dan kemungkinan identifikasi nesting area terhadap penyu-penyu tersebut. Tagging berbahan titanium anti karat dipasang pada sisi belakang flipper depan. Masing-masing tagging memiliki nomor seri yang berbeda dan terdapat grafir alamat E-mail BKSDA Bali.

Balai KSDA Bali menjadikan momen pelepasliaran penyu tersebut sebagai ajang kampanye untuk memerangi kejahatan pemanfaatan secara ilegal satwa yang dilindungi. (*)