Bajak Email Notaris di Bali, Dua Pria Ini Raup Uang Miliaran Rupiah

oleh
Dua tersangka kasus pembajakan email notaris di Bali. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Bali kembali sukses mengungkap kasus cyber crime. Kali ini terkait kasus pembajakan email (hijacking email) dengan tersangka seorang pria berinisial S (34) asal Yogyakarta dan R (30) asal Jakarta Barat.

Dirkrimsus Polda Bali Kombes Pol. Yuliar Kus Nugroho menjelaskan secara rinci terjadinya kasus tersebt. Menurut dia, pada 22 Februari 2019 pelapor berencana membeli sebidang tanah di Bali. Pelapor kemudian berhubungan dengan salah satu notaris di Badung. Notaris kemudian menjelaskan bahwa pelapor harus membuat perjanjian dan memberikan nomor rekening. Juga dijelaskan pembayarannya dengan cara transfer dan jika genap Rp 1,3 miliar maka transaksi akan terjadi.

Lalu, pada 14 Maret 2019 pelapor mentransfer uang senilai Rp 340 juta ke rekening yang diberikan dan mengirim bukti transfer ke email milik notaris dengan alamat dar*******_notaris@yahoo.com.

“Pada tanggal 15 Maret 2019, pelapor menerima email dari alamat email yang sama dengan alamat email notaris tersebut dan mengubah rekening tujuan transfer ke rekening BRI Jakarta atas nama tersangka S. Kemudian pelapor melakukan tiga kali transfer sampai berjumlah satu miliar lebih,” kata Yuliar.

Selanjutnya, kata Yuliar, pelapor mengirim pesan melalui whatsapp ke notaris untuk menanyakan uang pembayaran. Namun, menurut keterangan notaris, uang yang masuk ternyata baru Rp 340 juta dan tidak pernah mengganti rekening. “Dari kejadian tersebut, notaris baru menyadari bahwa alamat emailnya telah dibajak oleh orang untuk melakukan penipuan,” ujar Dirkrimsus Polda Bali.

Dari hasil penyelidikan ditemukan data bahwa S  telah menerima uang yang ditransfer ke rekeningnya sejumlah lebih dari Rp 1 miliar dan dan dikirim kembali ke tersangka R. “Tersangka S dan R digunakan sebagai rekening penampung. Sementara tersangka utama dalam kasus ini masih dalam penyelidikan,” ungkap Yuliar.

Petugas berhasil menyita barang bukti dari kedua tersangka berupa buku tabungan, mutasi rekening, dan handphone.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 82 dan/atau Pasal 85 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana dan/atau Pasal 28 ayat (1) jo Pasal 45 ayat (1) dan/atau Pasal 35 dan/atau Pasal 36 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 3, Pasal 5 dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan/atau Pasal 378 KUHP, dengan ancaman penjara maksimal 8 tahun. (*)