Awas, Ada Permainan Investor di Pembangunan JBC

oleh
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Pengamat Ekonomi Nasional Faizal Basri meminta seluruh stakeholder terkait agar mewaspadai permainan investor dalam pembangunan instalasi listrik Jawa Bali Crossing (JBC).

Hal itu disampaikan ekonom senior, Faisal Basri saat diskusi terbuka soal interkonektivitas pembangunan kelistrikan di kawasan Asean yang digelar di Denpasar, Rabu (31/1). Menurutnya, dugaan permainan investor dapat dillihat dari perencanaan JBC sejak awal.

“Yang sudah pasti, di rencana pembangunan ketenagalistrikan nasional memang tidak ada, tidak pernah berbicara soal JBC. Kenapa ini tiba-tiba nyelonong masuk. Lalu RUPTLN nya mau dibikin yang baru ada di tahun 2018. Lalu siapa yang masukan di tahun 2017,” sindirnya.

Ia juga mengingatkan bahwa rencana pembangunan JBC ini secara teknis dapat dicarikan solusi yang
paling efisien dengan tetap memperhatikan kearifan lokal.

“Jangan sampai niat untuk menjamin ketersediaan dan ketangguhan energi Bali dimanfaatkan oleh kelompok kepentingan atau pemburu rente. Ini listrik adalah barang publik dimana segara proses penyediaannya harus transparan,” tegasnya.

Bali adalah pintu gerbang Indonesia yang harus kita jaga agar jangan sampai turis kapok
mau datang karena polusi.

“Dan kita harus komit mengurangi gas emisi dan mengembangkan energi baru terbarukan sesuai komitmen kita dalam Paris Agreement,” ujarnya.

Kondisi ini berbanding tebalik dengan pembangunan ketenagalistrikan di Celukan Bawang yang menggunakan batubara yang bisa menimbulkan pencemaran udara.

Kadiv Perencanaan Regional PLN PT PLN (Persero) Paranai Suhasfa mengatakan, sebagai BUMN penyedia listik nasional memiliki rencana untuk membangun SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) 500 kV JBC (Jawa
Bali Crossing) untuk menjamin ketersediaan listrik Pulau Dewata beberapa tahun kedepan.

Menurut rencana, transmisi sepanjang 220 kilometer dari Paiton (Probolinggo, Jawa Timur) ke Antosari (Bali Selatan) ini mampu memasok daya hingga 2.000 megawatt.

“Saatnya Bali membangun ketahanan listrik, bukan sekedar menyediakan pasokan listrik. Jadi pembangunan JBC itu keniscayaan dan menjadi urgen,” ujarnya. (Ade/Tjg)