ATKLRSI Bahas Penanganan Limbah Medis untuk Hindari Konflik Sosial

oleh
Asosiasi Tenaga Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Indonesia (ATKLRSI) menggelar Munas I di Haris Riverview, Kuta, Badung, Rabu (7/8/2019). (Val)
banner 300250

Badung, suarabali.com – Asosiasi Tenaga Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Indonesia (ATKLRSI) menggelar Munas I di Haris Riverview, Kuta, Badung, Rabu (7/8/2019). Dalam munas ini dibahas beberapa masalah, di antaranya regulasi dan profesionalisme SDM para pengelola kesehatan lingkungan rumah sakit (sanitarian) untuk menghindari konflik sosial.

“Banyak rumah sakit (RS) yang berlokasi di tengah pemukiman penduduk yang padat. Ini yang berpoteni menimbulkan konflik sosial akibat pengelolaan kesehatan lingkungan yang kurang baik,” kata Ketua Pusat ATKLRSI, Baji Subagyo.

Baji Subagyo juga mengatakan kasus limbah medis yang pernah mencuat di media tahun lalu, menjadi tantangan besar bagi pengelola kesehatan lingkungan RS di seluruh Indonesia yang saat ini mencapai 2.823 RS.

Mudahnya masyarakat dan media dalam memublikasikan berita negatif terkait pengelolaan kesehatan lingkungan rumah sakit juga akan mengganggu pencitraan manajemen dan indikator kinerja pimpinan rumah sakit.

“Tantangan hukum dan regulasi yang semakin ketat menuntut pimpinan rumah sakit untuk memaksimalkan standarisasi pengelolaan kesehatan lingkungan RS. Ini perlu didukung adanya SDM yang berkompeten di bidangnya. Ke depan kami akan mengadakan pelatihan SDM untuk mengurangi kesalahan masa lalu,” ujarnya.

Sementara M. Nasir selaku Penasehat ATKLRSI menjelaskan, asosiasi juga akan melakukan pendampingan kepada para sanitarian yang tersandung masalah pengelolaan kesehatan lingkungan oleh tim ahli hukum sesuai regulasi yang berlaku. “Tujuannya agar tidak terjadi kegiatan yang berisiko,” katanya.

ATKLRSI telah membentuk pengurus wilayah di 34 provinsi dan saat ini sudah terbentuk 16 wilayah untuk mendukung pemerintah dalam mengurangi limbah (termasuk plastik) yang dihasilkan RS. Dengan demikian penanganan limbah medis dikelola oleh masing-masing RS di wilayah mereka.

“Kami ingin pengelolaan limbah berdasarkan program kesehatan berbasis wilayah. Ini adalah program strategis menuju standar akreditasi tingkat nasional maupun internasional. Tantangan terakhir adalah terkait pemenuhan standar akreditasi tingkat nasional maupun internasional yang mengharuskan rumah sakit serius dalam memenuhi ketentuan yang berlaku,” paparnya.

Beratnya tantangan tersebut mengharuskan setiap rumah sakit memiliki petugas kesehatan lingkungan yang andal dan profesional, yakni yang mampu menerapkan sistem, teknologi dan manajemen kesehatan lingkungan rumah sakit sesuai kebutuhan.

ATKLRSI yang dibentuk di Jogjakarta pada 8 Maret 2018 adalah wadah tempat berhimpunnya tenaga rumah sakit pengelola kesehatan lingkungan maupun pemerhati kesehatan lingkungan rumah sakit, memiliki keinginan luhur untuk mewujudkan kondisi lingkungan rumah sakit yang sehat, kondusif, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar, berdasarkan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dimiliki sesuai norma dan peraturan yang berlaku.

ATKLRSI  dibentuk untuk menghimpun dan mewakili profesi/praktisi kesehatan lingkungan rumah sakit di Indonesia, membina, mengembangkan, dan mengimplementasikan IPTEK di bidang kesehatan lingkungan rumah sakit, untuk tercapainya kondisi lingkungan rumah sakit yang sehat, aman, dan kondusif dalam mendukung aktifitas pelayanan kesehatan.

Termasuk juga menyukseskan program pemerintah dalam bidang pelayanan kesehatan pada umumnya dan pengelolaan kesehatan lingkungan rumah sakit pada khususnya.

Ketua Panitia Munas I, Maudya mengatakan munas digelar bersamaan dengan workshop ‘Implementasi Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit sekaligus melantik pengurus pusat ATKLRSI untuk menghadapi Akreditasi dan Green Hospital’ yang diikuti 150 peserta dari seluruh Indonesia. (Val)