Anisti Rumahnya Berada di Enam Km dari Gunung Agung Harus Merayakan Galungan di Pengungsian

oleh
Anisti pengungsi Gunung Agung yang terpaksa merayakan Hari Raya Galungan di pengungsian.
banner 300250

Klungkung, suarabali.com – Komang Sri Anisti mengaku terpaksa merayakan hari Raya Galungan di pengungsian Gor Sweca Pura, Klungkung.

Dia mengatakan, memilih merayakan hari Raya Galungan dipengungsian lantaran tidak berani pulang ke kampungnya.

“Rumah saya jaraknya enam kilo meter dari Gunung Agung. Masuk zona merah. Saya lebih memilih merayakan  Galungan disini, kenapa tidak pulang karena belum berani,”ungkapnya di Gor Sweca Pura Klungkung, Rabu (1/11/2017).

Seperti diketahui bahwa hari ini umat Hindu di Bali merayakan hari raya Galungan.  Dia mengaku, merasa tidak enak dengan kondisi saat ini. “Pasti tidak enak hidup dipengungsian. Apalagi sekarang ini hari raya seharusnya kami sembahyang dipura leluhur, tapi tidak bisa,”katanya.

Perempuan yang berumur 56 tahun ini mengatakan, tidak banyak yang dipersiapkan pada perayaan Galungan kali ini. “Tidak banyak yang saya siapkan. Karena pelingih disini tidak banyak,”ungkapnya.

Dia mengatakan, banyak warga Desa Sebudi, Karangasem yang nekat pulang untuk merayakan Galungan. “Banyak tetangga saya yang pulang. Tapi saya tidak pulang, ya sudah diterima saja merayakan Galungan dipengungsian sini,”paparnya.

Saat ini di dalam Gor Sweca Pura terlihat sepi, hanya ada puluhan warga saja yang tinggal. “Didalam gor sepi. Pada pulang semua. Nanti sore mungkin mereka kembali,”akunya.

Dia berdoa pada perayaan Galungan kali ini semoga Gunung Agung tidak jadi meletus dan bisa kembali pulang. “Ya kami berdoanya agar bencana ini cepat selesai dan kami bisa pulang,”ucapnya.

Sekitar pukul 05.00 Wita banyak pengungsi Gunung Agung yang pulang untuk merayakan hari Raya Galungan di kampungnya. (Dsd)