Acara “Naked Sushi” di Hong Kong Batal Setelah Dikecam

oleh
banner 300250

Hongkong, suarabali.com – Penyelenggara makan siang kontroversial yang menampilkan wanita telanjang di sebuah kabaret dengan makanan, telah membatalkan pertunjukan tersebut setelah ada keluhan tentang seksisme dan objektivitas wanita.

Hongkong sekalipun liberal, dan kehidupan dunia malamnya termasuk liar, toh acara makan “naked sushi” dibatalkan akibat protes kencang kepada penyelenggaranya. Naked Sushi adalah memakan hidangan sushi yang diletakan diatas tubuh telanjang perempuan muda.

Acara makan prasmanan tiga jam itu akan menampilkan hiburan dari Nyotaimori Tokyo, sebuah kelompok pertunjukan Jepang yang didirikan oleh fotografer Myu Chan yang mengkhususkan diri pada nyotaimori, atau “pengaturan tubuh wanita”, sebuah praktik yang dikatakan sampai sekarang masih ada sejak ratusan tahun lalu dan melibatkan sushi atau sashimi disajikan diatas tubuh wanita telanjang.

Fang Fang, restoran yang menjadi tuan rumah acara tersebut, memastikan bahwa pertunjukan nyotaimori tidak akan lagi ditampilkan dalam acara hari Sabtu, diselenggarakan dalam kemitraan dengan importir anggur Vines and Terroirs.

“Berdasarkan umpan balik dari pelanggan kami, kami telah mempertimbangkan kembali acara ini,” kata restoran tersebut dalam sebuah pernyataan. “Kami adalah tempat yang ingin menjadi tuan rumah pertunjukan dan wanita yang diobjekkan jelas bukan yang ingin kita lakukan.”

Valentin Maurel, salah satu pendiri importir anggur Prancis, Vines and Terroirs, sebelumnya membela Partai Brunch Jepang yang direncanakan digelar Sabtu, dengan alasan bahwa ini adalah tentang “menghidupkan kembali tradisi lama dengan cara modern”.

Kritikus menuduh penyelenggara mengeksploitasi seksisme dengan dalih seni, mereka mengatakan bahwa menyajikan makanan di tubuh model perempuan mempromosikan objektivitas wanita. Sejak Senin pagi, telah terjadi semakin deras komentar marah tentang postingan Facebook soal acara tersebut.

Penyelenggara berpendapat bahwa acara tersebut menyalurkan “pengalaman tradisional” dan akan dilakukan oleh seniman yang “mengkhususkan diri dalam seni khusus ini”. (Hsg)