5 Kesalahan Umum Soal “Leadership” yang Jarang Disadari

oleh
Pemimpin menggunakan kekuasaan secara cerdas dan peka. Ia memiliki kewenangan tanpa menjadi sewenang-wenang
banner 300250

DENPASAR, SUARABALI.COM –Pemimpin (leader) berperan penting dalam memajukan sebuah organisasi. Kegagalan memaknai leadership akan mengganggu atau merugikan kinerja organisasi. Leader atau pemimpin tidak sama dengan bos. Bos lebih berkonotasi sebagai orang yang menjadikan orang lain “anak buah” yang dapat diperintah, lebih sering untuk kepentingan atau kepuasan subjektif sang bos, sementara pemimpin berarti orang yang memimpin sebuah tim untuk mencapai tujuan bersama.

John Adair, seorang pakar leadership mendefinisikan, pemimpin adalah teladan yang dihormati. Sedangkan,bos adalah kedudukan yang ditakuti. Pemimpin menggunakan kekuasaan secara cerdas dan peka. Ia memiliki kewenangan tanpa menjadi sewenang-wenang, sementara bos bisa jadi sebaliknya.

Kali ini suarabali.com mencoba berbagi makna kepemimpinan yang kami rangkum dari berbagai sumber. Sebab, pada dasarnya, setiap manusia adalah pemimpin, pada level dan kapasitasnya masing-masing. Berikut 5 kesalahan dalam konsep kepemimpinan yang sering kali tidak kita sadari.

  1. Tidak memberikan feedback (umpan balik) kepada anak buah. Seorang pemimpin dituntut untuk bisa memberikan umpan balik, memberikan saran dan pandangan kepada timnya. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kinerja individu, tim, dan organisasi.
  2. Tak pernah punya waktu berinteraksi dengan timnya. Tugas pemimpin adalah memengaruhi, membimbing, mengarahkan, mendorong anggota timnya untuk melakukan aktivitas mencapai tujuan organisasi. Pemimpin yang malas berinteraksi dengan timnya akan menciptakan stagnasi bahkan kemunduran organisasi.
  3. Lepas tangan terhadap permasalahan tim. Pemimpin yang bossy selalu enggan bertanggung jawab atas masalah yang ada di organisasi. Ia cenderung mencari kambing hitam atas permasalahan yang ada.
  4. Tergesa-gesa dalam merekrut tim baru tanpa diikuti manajemen pelatihan yang terencana dengan baik.
  5. Tak mampu mendelegasikan tugas dan tidak punya kecakapan dalam pengarahan eksekusi. Pemimpin yang buruk sama sekali tak punya metodologi evaluasi dan tak bisa mengambil keputusan strategis.

 

Pemimpin harus bisa menerapkan gaya kepemimpinan yang alami. Mampu membuat keputusan strategis, mengidentifikasi dan membuat keputusan, menciptakan peluang dan mengeksekusinya.

Gaya memimpin bossy memang bisa memberi perintah. Namun, mereka tak akan mencapai perubahan yang positif dalam organisasi. Perubahan positif hanya dapat dilakukan orang yang memiliki jiwa Mahatma Gandhi, bukan Adolf Hitler.(han)