49 Ton Manggis Bali Sudah Diekspor ke Tiongkok dan Thailand

oleh
Buah manggis dari Bali ini diekspor ke Tiongkok dan Thailand. (Ist)
banner 300250

Denpasar, suarabali.com – Volume ekspor manggis bali terus meningkat, menyusul kebijakan pemerintah Tiongkok yang membuka kembali pasar manggis dari Indonesia. Kamis (5/4/2018), misalnya, sebanyak 7,2 ton manggis bali diekspor ke Tiongkok melalui Bandara Intenasional I Gusti Ngurah Rai.

Sejak Januari 2018 hingga 5 Maret 2018, volume ekspor manggis asal Bali ke Tiongkok dan Thailand yang dikirim melalui Bandar Ngurah Rai sudah mencapai 49 ton. Tahun ini, pemerintah secara nasional menargetkan 20 ribu ton ekspor manggis ke Tiongkok.

“Secara nasional, data ekspor manggis saat ini telah lebih dari 10 ribu ton,” kata Putu Terunanegara di Benoa, Denpasar, Kamis (5/4/2018).

Dia menjelaskan, ada beberapa hal yang perlu dipenuhi untuk menjaga kualitas manggis. Di antaranya, tampilan fisik serta bebas dari kutu putih dan semut. Hingga saat ini, kata dai, hanya satu produsen manggis di Bali yang sudah teregistrasi dan dapat melakukan ekspor langsung ke Tiongkok.

“Registrasi ini memberi mereka kesempatan besar untuk mengekspor langsung ke China,” ujar Teruna.

Selama empat tahun sebelumnya, menurut Teruna, manggil asal Indonesia masuk ke pasar Tiongkok melalui Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Saat ini, Indonesia sudah dapat mengekspor langsung komoditas pertaniannya ke Tiongkok.

“Ini luar biasa membahagiakan petani manggis. Kini, mereka lebih bergairah dan menjaga betul kualitas manggisnya,” ungkapnya.

Tahun ini boleh dibilang tahun keberuntungan bagi para petani di Indonesia. Pasalnya, buah hasil panennya mampu bersaing secara kualitas dengan buah-buahan dari luar negeri.

Saat ini, komoditas dari Indonesia sangat diminati di mancanegara. Inilah bukti bahwa Indonesia tidak selalu bergantung kepada produk impor, khususnya buah.

Manggis adalah salah satu buah lokal Indonesia yang kualitasnya sudah diakui pasar luar negeri. Julukan ‘The Queen of Fruits’ ini benar-benar diperlakukan bak ratu selama pasca panennya.

“Kita harus mampu memberikan jaminan kualitas melalui pengawalan pasca panen,” kata Teruna.

Terunanegara mengatakan perlakuan istimewa tersebut hanya untuk memenuhi syarat ekspor buah manggis ke Tiongkok yang superketat. “Buah manggis Indonesia harus bebas dari OPT dan semut yang menjadi persyaratan mutlak jika hendak mengekspor ke Tiongkok,” ungkapnya.

Komitmen semua stakeholders untuk memenuhi persyaratan ekspor berbuah manis. Momen yang ditunggu selama empat tahun dimana penutupan ekspor manggis ke Tiongkok akhirnya dibuka kembali.

“Kali ini, Tiongkok pun mengakui kesegaran dan kesehatan manggis Indonesia. Secara langsung mereka meminta Indonesia untuk memenuhi kebutuhan manggis sebanyak 20 ribu ton selama masa musim panen kali ini dengan kualitas bagus,” urai Terunanegara.

Garansi bebas OPTK dengan meregistrasi dan pengawasan packing house secara ketat merupakan upaya untuk menjaga ekspor dapat berkesinambungan. (Dsd/Sir)